WAKIL Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang memperkirakan perputaran uang selama dua hari libur Imlek tahun ini bisa mencapai Rp 9 triliun. “Libur Imlek tahun ini akan mendorong produktivitas perekonomian dan meningkatkan konsumsi rumah tangga,” kata Sarman, dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.

Pemerintah menetapkan libur nasional untuk Imlek tahun ini selama dua hari yakni 16–17 Februari 2026. Menurut Sarman, libur Imlek tahun ini akan mendorong produktivitas perekonomian dan meningkatkan konsumsi rumah tangga. Perhitungannya didasarkan oleh sejumlah aktivitas yang dilakukan masyarakat selama Imlek.

Perhitungan pertama adalah jumlah masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa yang mencapai 11,25 juta jiwa. Jumlah populasi tersebut, kata Sarman, setara dengan 2,8 juta keluarga dengan asumsi setiap keluarga memiliki empat orang anggota.

Sarman mengatakan, sebuah keluarga umumnya merayakan Imlek dengan makan malam bersama dan berbagi angpao kepada sesama. Ia mengatakan, jika setiap keluarga mengeluarkan uang senilai Rp 1 juga untuk berbelanja perayaan Imlek, potensi perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 2,812 triliun.

Sementara itu, perhitungan kedua dari sisi pariwisata, Sarman memperkirakan terdapat 3 juta jiwa yang melakukan perjalanan wisata ataupun ziarah dengan pesawat terbang, kereta api, dan kendaraan pribadi. Dengan asumsi rata-rata setiap orang mengeluarkan uang sebanyak Rp 500.000, ada potensi perputaran uang mencapai Rp 1,684 miliar.

Sarman memperkirakan jumlah penumpang pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta selama Imlek menyentuh 1.744.820 orang dengan destinasi kota besar seperti Surabaya, Medan, Semarang, Banjarmasin, Pontianak, Bali, dan Palembang. Dengan asumsi tiket pesawat senilai Rp 1 juta per penumpang, Sarman memperkirakan total transaksi bisa mencapai Rp 1,74 triliun.

Sementara itu, potensi penumpang yang menggunakan kereta api selama Imlek sebanyak 1 juga jiwa. Dengan asumsi rata-rata harga tiket kereta api senilai Rp 150 ribu, Sarman memperkirakan transaksinya bisa menyentuh Rp 150 miliar.

Untuk kereta cepat Whoosh, Sarman memperkirakan sebanyak 25 ribu transaksi yang bisa mencetak nilai Rp 6,250 miliar dengan asumsi harga sebesar Rp 250.000 per tiket.

Sarman juga memperkirakan pertumbuhan perputaran uang dari sektor retail selama Imlek tahun ini. Ia mengatakan, Himpunan Peretail dan Penyewa Pusat Perbelanjaan atau Hippindo menargetkan nilai transaksi sebesar Rp 53,38 triliun dari Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri.

Sarman mengatakan, dengan proyeksi pertumbuhan penjualan retail sebesar 5 persen selama Imlek, potensi perputaran uang dari sektor retail adalah sekitar Rp 2,669 triliun. Dengan perhitungan dari potensi pengeluaran selama libur Imlek 2026, ia memperkirakan perputaran uang sebesar Rp 9.067.480.000.000. Jumlah tersebut belum termasuk biaya tol, belanja BMM kendaraan pribadi, dan masyarakat yang bepergian menggunakan kapal laut.

Sarman optimistis perputaran uang selama libur Imlek tahun ini akan mengerek konsumsi rumah tangga yang akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga itu diyakini dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kuartal kesatu 2026 yang ditargetkan di level 5,5 persen.

Ia optimistis target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai karena momen hari besar keagamaan yang berdekatan selama kuartal pertama tahun ini. “Libur Idul Fitri merupakan perputaran uang terbesar di Indonesia dan menjadi puncak konsumsi rumah tangga terbesar di Indonesia,” kata Sarman.

Pilihan Editor: Terkerek Berkah Tahun Baru

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.