
INDONESIAN Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali mengatakan perang di Timur Tengah berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel selama libur Lebaran 2026. Meski demikian, pengurus IHGMA Bali Bagus Ngurah menyebut dampaknya tidak merata.
“Hotel-hotel yang memiliki segmen pasar middle eastern (Timur Tengah) dan sebagian Eropa terdampak langsung dengan penurunan (okupansi) cukup banyak, seperti hotel-hotel di wilayah Nusa Dua, Sanur dan Ubud,” kata Bagus kepada Tempo pada Kamis, 26 Maret 2026. Sedangkan hotel-hotel di daerah dengan segmen wisatawan Australia, Asia, dan domestik mengalami lonjakan okupansi cukup baik pada periode Lebaran.
Bagus mengatakan peningkatan hunian hotel-hotel selama periode Lebaran 2026 diisi oleh pasar domestik. Berdasarkan data anggota IHGMA Bali, tingkat okupansi hotel selama periode Nyepi–Lebaran tahun ini rata-rata mencapai 75 hingga 80 persen. Angka tersebut meningkat sekitar 10 hingga 12 persen dibandingkan 2025.
IHGMA Bali khawatir krisis geopolitik di Timur Tengah tengah berjalan lama. Jika itu terjadi, tutur Bagus, hotel-hotel akan bergeser ke pasar yang sama, sehingga bisa memicu perang harga. “Di samping juga kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia berdampak pada kenaikan tiket domestik,” ucap Bagus.
Bagus mengatakan hotel-hotel menempuh sejumlah strategi untuk meningkatkan okupansi. Pertama, mengubah fokus pasar ke wisatawan domestik, Asia, dan Australia yang relatif lebih stabil terhadap dampak perang Iran-Israel. Kedua, mengoptimalkan kanal distribusi digital dengan memperkuat promosi melalui online travel agent.
Strategi ketiga adalah memberikan penawaran berbasis value-added. “Hotel cenderung mempertahankan harga kamar dengan menambahkan nilai lebih, seperti paket makanan dan minuman, layanan spa, atau produk hotel lainnya, guna menjaga daya saing tanpa menurunkan tarif secara signifikan,” kata Bagus.
Pilihan Editor: Cara Manajemen Hotel Menaikkan Okupansi Saat Libur Lebaran










