
kalselbabusalam.com – Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan dengan berbagai cerita warganet yang mengklaim telah berhasil menjual emas batangan mereka dengan harga yang jauh melampaui tarif resmi di pasaran. Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak, mempertanyakan penyebab di balik selisih harga yang signifikan tersebut.
Sebagai gambaran, pada Senin (20/10/2025), harga emas resmi berada di kisaran Rp 2,6 juta per gram. Namun, di platform daring, beberapa pengguna media sosial justru menawarkan emas milik mereka dengan harga yang melambung hingga mencapai Rp 3,2 juta per gram. Bahkan, salah seorang warganet secara gamblang menawarkan 10 gram emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) seharga Rp 32 juta, yang berarti Rp 3,2 juta per gram, lengkap dengan surat-surat dan kondisi masih tersegel.
Kenaikan harga jual emas di pasar yang melonjak tajam dari harga resmi ini sontak menimbulkan pertanyaan besar. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi disparitas harga yang begitu mencolok?
Penyebab Harga Jual Emas Melonjak Tajam
Rijadh Djatu Winardi, seorang Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), menjelaskan bahwa lonjakan harga emas di pasaran utamanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Menurutnya, harga emas global saat ini berada dalam tren kenaikan yang signifikan, dipicu oleh tingginya ketidakpastian ekonomi dunia. Faktor-faktor seperti gejolak geopolitik dan arah kebijakan suku bunga di negara-negara maju turut berkontribusi pada situasi ini.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, investor secara alami cenderung mencari aset lindung nilai atau safe haven asset, dan emas menjadi pilihan utama yang paling dicari. Akibatnya, terjadi peningkatan permintaan yang tajam, baik dari investor institusi besar maupun individu, termasuk di Indonesia, yang berbondong-bondong ingin memiliki emas.
Permasalahan muncul ketika peningkatan permintaan emas yang masif tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai di dalam negeri. Produksi dan distribusi logam mulia, sebagai komoditas fisik, membutuhkan waktu serta proses yang tidak bisa serta-merta menyesuaikan diri dengan lonjakan permintaan mendadak. Kondisi ini kemudian memicu permintaan berlebih, di mana jumlah emas yang ingin dibeli jauh melampaui jumlah yang tersedia di pasaran.
Implikasinya, harga emas yang diperdagangkan di luar gerai resmi menjadi jauh lebih tinggi. Para penjual yang memiliki stok emas fisik yang langsung tersedia tanpa waktu tunggu memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai market premium atau tambahan harga di atas nilai intrinsik logam mulia. Oleh karena itu, harga yang terbentuk di pasaran bukan lagi semata-mata mencerminkan nilai dasar emas, melainkan harga kelangkaan yang bisa jauh melampaui harga resmi yang ditetapkan.
Distribusi Belum Efisien
Faktor lain yang turut berkontribusi pada lonjakan harga emas adalah rantai distribusi yang masih panjang dan kurang efisien. Dalam praktiknya, penjualan emas melibatkan banyak pihak, mulai dari gerai resmi yang menjadi acuan harga, toko perhiasan, hingga penjual individu yang beroperasi di platform daring seperti grup WhatsApp.
Reseller atau penjual perantara biasanya menambahkan margin keuntungan untuk menutupi biaya logistik, keamanan, serta keuntungan pribadi mereka. Ketika permintaan pasar sedang tinggi, margin ini dapat melonjak drastis karena pembeli rela membayar lebih demi mendapatkan emas tanpa harus menunggu lama. Dengan demikian, harga di pasar mencerminkan kemauan pembeli untuk membayar lebih (willingness to pay), bukan karena peningkatan nilai intrinsik emas itu sendiri.
Perilaku Spekulatif dan Efek FOMO
Selain faktor-faktor di atas, perilaku spekulatif masyarakat yang terdorong oleh rasa takut ketinggalan momentum (fear of missing out atau FOMO) juga berperan penting. Banyak orang yang yakin bahwa harga emas akan terus mengalami kenaikan, sehingga mereka rela membeli dengan harga berapa pun asalkan mendapatkan emas fisik.
Situasi ini diperkuat oleh derasnya pemberitaan mengenai lonjakan harga emas global yang diakibatkan oleh ketegangan geopolitik dan pelemahan nilai dolar AS. Ketika keyakinan masyarakat bahwa harga tidak akan turun lagi menguat, pasar menjadi sangat emosional. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian penjual yang menaikkan harga setinggi mungkin, demi meraup keuntungan maksimal dari kepanikan dan antusiasme pembeli.
Artikel ini sebelumnya telah tayang di Kompas.com berjudul “Mengapa Jual Emas di Pasaran Bisa Jauh Lebih Tinggi dari Harga Resmi?”, dilansir dari Kompas.com.











