KalselBabusalam.com, KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga emas dan logam mulia di pasar global diperkirakan masih akan menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan pekan depan. Kondisi ini terutama dibayangi oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 99,28 pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Di samping itu, harga minyak mentah jenis WTI dibanderol seharga US$ 105,42 per barel, sementara Brent mencapai US$ 109,26 per barel. Data ini menjadi indikator awal tekanan yang mungkin akan dihadapi pasar emas.

Mengulas prospek pekan depan, Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi indeks dolar AS berpotensi melanjutkan penguatan. Menurutnya, DXY akan bergerak dengan level support di 97,300 dan resistance di 101,100. Sejalan dengan itu, harga minyak mentah WTI juga diproyeksikan akan terus menguat, dengan level support di US$ 91,60 per barel dan resistance di US$ 110,60 per barel.

Ibrahim menekankan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak akan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi dinamika harga emas global dalam jangka pendek. Kedua variabel ini memiliki korelasi terbalik dengan emas sebagai aset safe haven, di mana penguatan keduanya cenderung menekan daya tarik emas.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga emas dunia tercatat berada di level US$ 4.538 per ons troi. Sementara itu, harga logam mulia bersertifikat Antam di pasar domestik mencapai Rp 2.769.000 per gram. Ibrahim memaparkan skenario pergerakan harga emas dan logam mulia untuk pekan mendatang.

“Apabila melemah, support pertama untuk emas global berada di US$ 4.444 per ons troi. Untuk logam mulia Antam, kemungkinan besar akan turun Rp 20.000 ke level Rp 2.749.000 per gram,” ujar Ibrahim pada Minggu (17/5/2026). Ia menambahkan, level support kedua diperkirakan berada di US$ 4.307 per ons troi, dengan harga logam mulia Antam berpotensi anjlok ke Rp 2.685.000 per gram.

Namun, jika harga emas global berhasil kembali menguat, Ibrahim memproyeksikan resistance pertama akan berada di US$ 4.639 per ons troi. Kondisi ini dapat mendorong harga logam mulia Antam mencapai Rp 2.789.000 per gram. Adapun resistance kedua diprediksi di level US$ 4.796 per ons troi atau mendekati US$ 4.800 per ons troi, yang berpotensi mengangkat harga logam mulia ke Rp 2.880.000 per gram. “Jadi, untuk mencapai level Rp 2.900.000 kemungkinan sangat berat sekali,” tegas Ibrahim.

Di luar faktor ekonomi makro, arah pergerakan emas saat ini juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menyoroti peluang kesepakatan antara AS dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Menurutnya, jika kesepakatan tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, ketegangan geopolitik berpotensi mereda, yang bisa memberikan efek menenangkan pasar.

Sebaliknya, jika konflik antara Iran dan Israel terus memanas dan AS tetap ikut campur, volatilitas harga emas akan semakin tinggi. Situasi geopolitik yang tidak menentu kerap mendorong investor mencari perlindungan pada emas, sehingga memicu fluktuasi harga yang signifikan.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan hubungan dagang antara AS dan China. Ibrahim menilai pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, membuka peluang meredanya perang dagang yang telah berlangsung. “Ini kemungkinan besar akan menenangkan pasar,” ujar Ibrahim, mengindikasikan bahwa perbaikan hubungan dagang dapat mengurangi ketidakpastian global.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menganalisis bahwa inflasi AS yang masih tinggi, terutama akibat kenaikan harga energi, berpotensi membuat bank sentral AS (Federal Reserve) tetap mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun ini. Ia menambahkan, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah global berisiko mendorong bank sentral di berbagai negara untuk kembali mengetatkan kebijakan moneternya secara serentak. Kondisi pengetatan ini dinilai dapat memberikan tekanan lebih lanjut pada harga emas.

Namun demikian, ada faktor penyeimbang yang perlu dicermati: permintaan emas dari bank sentral global yang masih cukup kuat, terutama saat harga logam mulia mengalami koreksi. Ibrahim menyebutkan bahwa sejumlah negara besar seperti China, India, negara-negara Eropa, hingga Amerika Latin masih aktif menambah cadangan emas mereka. “Pada saat harga logam mulia relatif lebih murah, ini akan dimanfaatkan oleh bank sentral global untuk melakukan pembelian,” kata Ibrahim, menjelaskan strategi akumulasi emas di tengah koreksi harga.

Di pasar domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan menahan penurunan harga logam mulia. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah ke kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada pekan depan. Oleh karena itu, Ibrahim menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan kondisi koreksi harga emas sebagai peluang untuk mulai mengoleksi logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.