KalselBabusalam.com – Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menyewa gudang filial pada tahun depan. Keputusan ini diambil seiring dengan rencana ambisius pembangunan 100 unit gudang baru untuk memperkuat infrastruktur logistik pangan nasional.

“Kami harus menyewa gudang-gudang filial lainnya guna menopang kebutuhan penyimpanan,” kata Rizal saat berbicara di kantor pusat Bulog, Jakarta Selatan, pada Kamis, 20 November 2025.

Rizal menjelaskan, gudang filial ini akan dioptimalkan fungsinya untuk menyerap gabah petani secara maksimal, khususnya saat musim panen raya yang diperkirakan terjadi tahun depan. Ia menambahkan, gudang-gudang sewaan tersebut akan dilengkapi dengan fasilitas cocoon, sebuah sistem pengemasan beras menggunakan bahan serupa plastik khusus yang dirancang untuk menjaga kualitas beras agar tetap prima.

Purnawirawan TNI tersebut tidak merinci proyeksi kuantitas panen padi pada tahun depan. Namun, Rizal menekankan bahwa jumlah panen sangat bergantung pada kondisi cuaca yang tidak menentu.

Untuk mengantisipasi fluktuasi cuaca, pemerintah saat ini sedang berdiskusi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Apakah nanti akan terjadi El Nino atau La Nina, kita belum tahu secara pasti dampaknya,” ungkapnya.

Besar harapan pemerintah, prediksi cuaca akurat dari BMKG dapat menjadi landasan penting dalam memproyeksikan jumlah panen yang optimal untuk tahun mendatang.

Sejalan dengan itu, Bulog merencanakan pembangunan 100 gudang baru yang tersebar di berbagai wilayah pada tahun depan. Rizal memperkirakan bahwa ratusan gudang ini secara kolektif akan memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1 juta ton gabah atau beras.

Gudang-gudang tersebut akan diklasifikasikan ke dalam tiga tipe kapasitas berbeda. Yaitu, kapasitas kecil sebesar 3.500 ton, kapasitas menengah 7.000 ton, dan kapasitas besar sebanyak 1.400 ton.

Variasi kapasitas ini, lanjut Rizal, dirancang dengan mempertimbangkan potensi produksi padi di setiap wilayah. “Untuk daerah yang tidak berpotensi tinggi menghasilkan padi, kami mungkin akan membangun gudang kelas kecil atau menengah,” jelasnya. Sementara itu, daerah sentra produksi padi yang strategis akan diprioritaskan untuk mendapatkan gudang dengan kapasitas besar.

Dari total ratusan unit yang direncanakan, pemerintah menargetkan setidaknya 50 gudang baru dapat rampung pada Maret 2026.

Rizal menginformasikan bahwa 50 gudang awal tersebut akan dibangun di lahan milik Bulog yang didapat dari hibah pemerintah kabupaten/kota. Hingga kini, pemerintah—termasuk Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Dalam Negeri—masih terus berkoordinasi untuk menentukan lokasi-lokasi strategis pembangunan gudang baru tersebut.

Pembangunan gudang baru akan difokuskan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah yang belum memiliki unit penyimpanan yang memadai, guna menghindari tumpang tindih infrastruktur. “Seperti di Kepulauan Maluku Utara, kemudian di Pegunungan-Pegunungan Papua, itu juga kita akan bangun fasilitas penyimpanan yang baru,” pungkas Rizal.

Pilihan Editor: Ekses Lain Penyerapan Gabah Segala Kualitas: Gudang Bulog Kurang

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.