JAKARTA, KOMPAS.com — Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans mengungkapkan perasaannya usai merilis buku terbarunya yang berjudul Broken Strings.

Buku yang memuat kisah personal Aurelie mengenai pengalaman pahitnya di masa lalu ini ternyata memantik reaksi luar biasa dari publik, terutama terkait isu child grooming (pikat anak).

Melalui saluran siaran (broadcast channel) di akun Instagram pribadinya, Aurelie mengaku terkejut dengan banyaknya pesan masuk dari para penyintas yang selama ini memendam kisah mereka sendirian.

Baca juga: Rieke Diah Pitaloka Angkat Kasus Child Grooming, Aurelie Moeremans: Aurelie Kecil Seneng Banget ini

“Setiap aku buka DM (Direct Message), aku selalu kaget. Ternyata benar ya, sebanyak ini orang yang pernah mengalami child grooming, dan selama ini mereka simpan sendiri,” tulis Aurelie dikutip Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Perubahan Respons Publik

Aurelie menyoroti bagaimana topik child grooming masih dianggap tabu di Indonesia.

Istri Tyler Bigenho itu pun merefleksikan perjuangan panjangnya untuk bisa bersuara mengenai hal ini tanpa dihakimi.

Pemain film Story of Dinda ini mengenang momen pahit saat pertama kali mencoba berbicara ke publik pada 2014, di mana ia justru mendapatkan serangan balik.

Baca juga: Aurelie Moeremans Dorong Penyintas Grooming Bersuara lewat Gerakan #PutusTali

“Aku tahu, karena aku pernah coba speak up. 2014, aku diserang. 2020, aku coba lagi, tipis-tipis, nothing,” ungkapnya.

Namun, situasi berbeda dirasakannya pada tahun 2026 ini.

Niat awalnya yang hanya menjadikan buku Broken Strings sebagai media journaling atau catatan harian, justru disambut dengan empati yang besar.

“Dan sekarang, 2026, walaupun niat awalnya cuma journaling, akhirnya didengar tanpa victim blaming yang masif,” lanjut Aurelie.

Bukan Karena Paling Kuat

Lebih lanjut, Aurelie menegaskan bahwa keberaniannya menerbitkan buku Broken Strings bukan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok yang paling kuat.

Baca juga: Dukungan Sesama Artis untuk Aurelie Moeremans yang Berani Ungkap Trauma Grooming

Tujuannya merilis karya tersebut adalah untuk merangkul para korban lain agar tidak merasa terisolasi.

“Tapi karena aku enggak mau ada satu orang pun yang merasa sendirian, atau merasa semua ini salah mereka,” tegasnya.

Menutup pesannya, Aurelie menyampaikan rasa terima kasih dan dukungan emosional kepada para pengikutnya yang telah berani berbagi cerita dan saling menjaga satu sama lain di ruang digital tersebut.

“Kadang aku pengin banget bisa memeluk kalian satu-satu,” tutup Aurelie dengan menyertakan emoji hati putih.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.