BANJARMASIN, KALSELBABUSALAM.COM-
22 AGUSTUS — Dewan Pimpinan Pusat Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (DPP FKPWK) Kalimantan Selatan menggelar peringatan Milad ke-2 dengan mengusung tema “Tumbuh Mandiri Bangkit Bersinergi”. Berlangsung khidmat dan meriah di Efa Cafe Coffee and Eatery, Hotel Eva, acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat, tokoh daerah, serta insan pers.
Di usia yang kedua ini, FKPWK Kalsel menegaskan komitmennya untuk terus bergerak aktif di bidang sosial, hukum, dan budaya, sekaligus menyampaikan sejumlah poin sikap kritis terkait kondisi sosial dan kebijakan pemerintah daerah di Kalimantan Selatan.
Sebagai bentuk kepedulian mandiri, FKPWK Kalsel menganugerahkan penghargaan khusus kepada sejumlah warga Banua yang berprestasi, di antaranya seorang pelajar yang meraih penghargaan dari lembaga antariksa AS (NASA) beserta guru pembimbingnya, serta seniman pencipta lagu-lagu daerah Banjar.
Ketua Dewan Pembina FKPWK Kalsel, H. Junaidi, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bentuk dukungan moral sekaligus teguran terbuka bagi pemerintah daerah yang dinilai kurang peduli terhadap pencapaian anak daerah.
“Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi dari FKPWK. Kami merangsang dan mengingatkan pejabat berwenang bahwa ada anak daerah berprestasi internasional yang selama ini kurang tersentuh. Penghargaan tidak harus selalu materi, ucapan pun adalah bentuk apresiasi yang bermakna,” ujar H. Junaidi.
Ketua DPP FKPWK Kalsel, H. Rachmad Fadillah, S.H., menambahkan bahwa pemberian apresiasi ini akan terus berlanjut sebagai agenda tahunan organisasi guna menjaga semangat generasi muda Banua.
Pengurus FKPWK Kalsel, Akhmad Murjani, menyoroti ancaman serius krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain memicu lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), krisis ini mengganggu jalur transportasi logistik (seperti rute Liang Anggang–Pelaihari/Banjarbaru) yang berdampak langsung pada kenaikan harga bahan pokok.
FKPWK Kalsel mendesak Pemerintah Provinsi Kalsel dan Dinas Pendidikan untuk segera mengevaluasi dampak kesehatan bagi pelajar, termasuk mempertimbangkan opsi meliburkan sekolah atau menerapkan sistem pembelajaran alternatif.
“Pemerintah daerah harus duduk bersama dan bersinergi mengatasi masalah ini secara serius. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban ISPA dan perekonomian warga lumpuh,” tegas Akhmad Murjani.
Mengingat dampak karhutla yang turut menghanguskan lahan pertanian dan pemukiman warga, Tim Advokasi FKPWK Kalsel menyatakan kesiapannya untuk mendampingi masyarakat terdampak secara hukum dan fasilitasi sosial.
“Kami siap mengadvokasi dan mendampingi warga terdampak agar mereka mendapatkan hak serta akses bantuan sosial dari pemerintah daerah untuk pemulihan ekonomi mereka,” ungkap Bujino A. Sahlan, Tim Advokat FKPWK Kalsel.
Merespons kedatangan Presiden RI ke Kalimantan Selatan dalam rangka penanganan karhutla, FKPWK Kalsel mengapresiasi perhatian pemerintah pusat. Namun, H. Junaidi mengingatkan agar Pemda tidak terus bergantung pada intervensi pusat tanpa adanya solusi permanen jangka panjang.
“Kejadian kabut asap ini berulang setiap tahun di Kalsel, Kalteng, maupun Kaltim. Pemerintah daerah harus tanggap dan punya pemikiran khusus agar kita tidak jatuh di lubang yang sama setiap tahunnya,” tutup H. Junaidi.
Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Kalsel adalah organisasi kemasyarakatan yang berfokus pada penguatan kerukunan warga, advokasi hukum, aksi sosial, serta pelestarian kebudayaan di tanah Banua Kalimantan Selatan.(Kbs)



