Kategori: Finance

  • Prediksi IHSG 2025: Melesat ke 8.600, Apa Selanjutnya?

    Prediksi IHSG 2025: Melesat ke 8.600, Apa Selanjutnya?

    KalselBabusalam.comJAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa gemilang dengan mengukir sejarah baru. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/12), IHSG sukses menembus level psikologis yang signifikan, menguat sebesar 0,80% dan bertengger di posisi 8.617,04. Pencapaian ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar, menandakan adanya optimisme yang kuat di Bursa Efek Indonesia.

    Sepanjang hari perdagangan, pergerakan IHSG sangat dinamis, dengan indeks yang fluktuatif dalam rentang 8.546,69 hingga mencapai puncaknya di 8.625,63. Aktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terpantau ramai, dengan total nilai transaksi yang fantastis, mencapai Rp 21,92 triliun. Angka tersebut turut mendorong kapitalisasi pasar IHSG melambung hingga Rp 15.842,47 triliun, mencerminkan peningkatan kepercayaan dan minat investor.

    Menanggapi capaian impresif ini, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mengungkapkan pandangannya. Menurut Nico, keberhasilan IHSG menembus level 8.600 adalah sinyal positif, namun pihaknya masih menantikan pergerakan indeks untuk mencapai target berikutnya di level 8.660. “Kami masih menanti level 8.660 dapat tercapai dan tampaknya tinggal sedikit lagi IHSG mampu menggapainya,” jelasnya, dilansir dari Kontan pada Selasa (2/12/2025).

    Lebih lanjut, Nico juga memproyeksikan potensi kenaikan yang lebih tinggi. Dengan tingkat probabilitas sebesar 74%, terdapat kemungkinan IHSG untuk menyentuh angka 8.940. Namun, ia menekankan bahwa skenario optimistis ini akan terwujud apabila IHSG mampu menjaga posisinya agar tidak tergelincir di bawah level 8.000, didukung pula oleh sentimen ekonomi makro yang kondusif.

    Pergerakan pasar saham di sisa tahun ini diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, khususnya potensi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Keputusan ini akan sangat dinantikan dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember 2025. Nico berpendapat, “Apalagi kalau The Fed memangkas tingkat suku bunga, kami melihat Bank Indonesia pun juga berpeluang lebih besar untuk menurunkan tingkat suku bunganya.”

    Apabila Bank Indonesia mengikuti langkah The Fed dengan memangkas suku bunga acuan, Nico meyakini hal tersebut akan menjadi stimulus yang kuat dan memberikan dorongan lebih besar bagi pertumbuhan perekonomian domestik. Di sisi lain, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang terlihat ekspansif turut menambah keyakinan pasar. Kondisi ini, kata Nico, “memberikan harapan baru bahwa perekonomian Indonesia tahun 2026 mungkin akan benar benar terakselerasi dengan baik, apabila semua program dapat berjalan.”

  • Dolar AS Melemah: Analisis & Proyeksi IHS Dolar Hingga 2025

    Dolar AS Melemah: Analisis & Proyeksi IHS Dolar Hingga 2025

    KalselBabusalam.comJAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menunjukkan pelemahan signifikan, kembali bergerak di bawah level psikologis 100. Kondisi ini dipicu oleh semakin menguatnya ekspektasi pasar akan pemotongan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

    Taufan Dimas Hareva, yang menjabat sebagai Research and Development di ICDX, menjelaskan bahwa tekanan terhadap dolar AS ini sejalan dengan antisipasi pasar yang kian besar terhadap keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya, bahkan berpotensi terjadi pada pertemuan bulan Desember mendatang.

    Melemahnya data ekonomi dari Amerika Serikat turut mempercepat penurunan indeks dolar. Berbagai indikator utama, seperti kontraksi pada indeks manufaktur dan sinyal perlambatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, mengonfirmasi kondisi tersebut.

    Realitas ini secara langsung menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mengikis daya pikat dolar sebagai aset safe haven. Seiring dengan itu, perbaikan sentimen risiko di pasar global mendorong investor untuk beralih dari dolar, mencari peluang pada aset dan mata uang lain yang menjanjikan imbal hasil lebih menarik.

    “Ke depan, indeks dolar diproyeksikan akan melanjutkan tren pelemahan hingga akhir tahun. Pergerakannya diperkirakan akan berada dalam rentang 98 hingga 101, selama tidak ada kejutan data signifikan yang dapat memicu penguatan dolar secara mendadak,” jelas Taufan, dilansir dari Kontan, Selasa (2/12).

    Taufan lebih lanjut menggarisbawahi bahwa ekspektasi akan pelonggaran kebijakan moneter yang semakin kuat menjadi pendorong utama yang terus menekan nilai tukar dolar AS.

    Di sisi lain, bank-bank sentral utama global seperti European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang stabil. Kondisi ini menciptakan celah bagi mata uang mereka untuk menunjukkan kekuatan relatif terhadap dolar AS.

    Dalam konstelasi pasar yang demikian, sejumlah mata uang global memperlihatkan potensi pergerakan yang lebih stabil dibandingkan dolar AS. Hal ini terutama berlaku bagi mata uang yang didukung oleh prospek kebijakan moneter yang relatif lebih ketat atau fundamental ekonomi yang masih kokoh.

    Sebagai contoh, Euro dan Poundsterling berpeluang besar untuk mempertahankan momentum penguatannya, asalkan bank sentral masing-masing (ECB dan BoE) konsisten menjaga suku bunga pada level tinggi, sementara inflasi menunjukkan tren penurunan bertahap.

    Selanjutnya, mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga diperkirakan akan diuntungkan, terutama jika sentimen risiko global terus membaik dan permintaan terhadap komoditas tetap solid.

    Di sisi lain, aset defensif seperti Yen Jepang dan Swiss Franc tetap memegang peran penting sebagai mata uang safe haven di tengah ketidakpastian global. Kendati demikian, potensi penguatannya akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral masing-masing dan fluktuasi imbal hasil obligasi negara-negara maju.

    Menyimpulkan analisisnya, Taufan menegaskan, “Dengan demikian, pergerakan beragam mata uang hingga penghujung tahun ini akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen risiko global, kebijakan moneter dari bank-bank sentral utama dunia, serta dinamika situasi geopolitik yang setiap saat dapat mengubah preferensi investor.”

  • Masuk Bisnis Gim dan Risiko Cash Trap, Saham Bukalapak (BUKA) Telah Divaluasi Wajar

    Masuk Bisnis Gim dan Risiko Cash Trap, Saham Bukalapak (BUKA) Telah Divaluasi Wajar


    KalselBabusalam.com JAKARTA. Prospek saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) diprediksi akan terus menunjukkan pertumbuhan positif di tahun mendatang. Kendati demikian, valuasi saham BUKA saat ini dianggap telah mencapai titik wajar.

    Dilansir dari Maybank Sekuritas Indonesia, Analis Etta Rusdiana Putra berpendapat bahwa BUKA memiliki potensi besar dari bisnis distribusi gim, yang menjadi mesin utama pendorong pendapatan perusahaan.

    Dalam riset yang diterbitkan pada 1 Desember 2025, Etta memperkirakan margin kotor BUKA akan mencapai 7,8% pada tahun buku 2026 hingga 2027. Lebih lanjut, pendapatan bunga diproyeksikan mampu menutupi beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) hingga sekitar 1,5 kali pada tahun 2026. “Kondisi ini dinilai cukup solid untuk menjaga keberlanjutan operasional perusahaan,” jelasnya.

    Sejalan dengan prospek cerah tersebut, target harga saham BUKA berbasis SOTP (sum-of-the-parts) dinaikkan dari Rp 145 menjadi Rp 170 per saham. Valuasi ini mencerminkan diskon 29% terhadap estimasi saldo kas dan investasi lain BUKA sebesar Rp 24,6 triliun, serta setara dengan valuasi 23 kali core P/E dan 0,6 kali P/BV.

    “Meskipun demikian, karena harga saham saat ini dianggap telah mencerminkan valuasi tersebut, rekomendasi untuk saham BUKA diturunkan menjadi hold,” ungkap Etta dalam risetnya. Harga saham BUKA pada hari Selasa (2/12) berada di level Rp 167 per saham.

    Menurut perhitungan Etta, pendapatan BUKA akan tumbuh dengan CAGR sebesar 17% selama periode 2024–2027, mencapai Rp 7,08 triliun pada tahun 2027. Peningkatan ini didorong oleh bisnis distribusi gim yang diproyeksikan menjadi kontributor utama pendapatan. Bisnis distribusi gim diperkirakan menyumbang Rp 5,4 triliun pada tahun 2026, atau sekitar 80% dari total pendapatan, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 7%.

    “Keputusan BUKA untuk keluar dari bisnis marketplace C2C yang sangat kompetitif dinilai tepat karena mengurangi kebutuhan belanja pemasaran secara besar-besaran,” kata Etta. Saat ini, fokus bisnis inti BUKA adalah pada distribusi gim dan layanan online-to-offline (O2O), dengan dukungan ekspansi terbatas pada segmen ritel dan investasi. Temukan informasi menarik lainnya tentang investasi dan bisnis di KalselBabusalam.com.

    Pergeseran strategi bisnis ini memungkinkan margin kotor untuk tetap stabil di level 7,8% pada 2026–2027, sekaligus meningkatkan profitabilitas dibandingkan dengan model bisnis sebelumnya.

    Etta juga menyoroti bahwa BUKA memiliki posisi kas yang kuat dan pendapatan bunga yang memadai untuk menutupi biaya operasional. Efisiensi biaya diproyeksikan akan tetap terjaga, dengan SG&A naik moderat sebesar 4% secara tahunan menjadi Rp 710 miliar pada tahun 2026.

    Sementara itu, pendapatan bunga diperkirakan mencapai Rp 1,1 triliun, cukup untuk menutupi biaya operasional hingga 1,5 kali. Total kas dan investasi BUKA diperkirakan mencapai Rp 24 triliun atau sekitar Rp 239 per saham.

    Namun demikian, terbatasnya peluang pertumbuhan di ekosistem teknologi dapat menjadi penghalang bagi perusahaan untuk memperoleh valuasi premium. Di sisi lain, BUKA diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengelola dana kasnya yang besar.

    Etta mengindikasikan bahwa BUKA berpotensi menghadapi risiko cash trap, yaitu situasi di mana perusahaan memiliki dana besar namun minim peluang pertumbuhan.

    Oleh karena itu, Maybank Sekuritas memberikan target harga baru di Rp 170 per saham, yang mencerminkan diskon 29% terhadap estimasi saldo kas BUKA sebesar Rp 24,6 triliun. Dengan semakin terbatasnya potensi ekspansi bisnis yang dapat memberikan imbal hasil tinggi, BUKA dinilai semakin menyerupai perusahaan holding investasi dengan prospek pertumbuhan yang terbatas.

    “Kondisi ini menciptakan risiko cash trap, yaitu situasi di mana dana kas besar tidak dapat dialokasikan secara efektif untuk menciptakan nilai baru bagi pemegang saham,” jelas Etta dalam riset tersebut.

    Meskipun demikian, risiko utama terhadap pandangan ini adalah apabila BUKA mampu mengeksekusi strategi alokasi modal lebih baik dari perkiraan, misalnya melalui investasi bernilai tinggi atau program pembelian kembali saham yang berpotensi membuka nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham.

    Pada tahun ini, BUKA diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 6,21 triliun dengan laba bersih Rp 768 miliar. Sementara pada tahun 2026, pendapatan BUKA diproyeksikan mencapai Rp 6,63 triliun dengan laba bersih Rp 810 miliar.

    Hingga pukul 11.59 WIB, harga saham BUKA naik 0,6% menjadi Rp 167 per saham.

  • Nikkei & ASX Bangkit! Bursa Asia Rebound di Tengah Tekanan Global

    Nikkei & ASX Bangkit! Bursa Asia Rebound di Tengah Tekanan Global

    KalselBabusalam.com, JAKARTA. Pasar saham Asia menunjukkan performa positif pada perdagangan Selasa, 2 Desember 2025, memimpin upaya pemulihan setelah sesi koreksi global yang dipicu oleh jeda reli di Wall Street. Kenaikan tipis ini terutama terlihat di bursa Jepang dan Australia, memberikan angin segar bagi investor.

    Di Tokyo, indeks Nikkei berhasil bangkit dengan kenaikan 0,2%, mencapai level 49.407,63 pada menit-menit awal perdagangan. Pemulihan ini menjadi sorotan utama setelah indeks tersebut sempat anjlok signifikan sebesar 1,9% pada hari sebelumnya, bahkan menembus level psikologis krusial 50.000 poin. Senada, indeks Topix juga membukukan penguatan 0,1% menjadi 3.342,12.

    Pergerakan pasar Jepang masih diwarnai oleh sentimen dari kebijakan Bank of Japan (BOJ). Pernyataan Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, yang membuka peluang untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang, telah memberikan dorongan penguatan pada mata uang yen, yang kini diperdagangkan pada 155,45 per dolar AS.
    Bursa Asia Bervariasi, Indeks Nikkei 225 Melemah di Pagi Ini (17/11)

    Sementara itu, di Australia, indeks S&P/ASX 200 menunjukkan performa yang mengesankan dengan kenaikan 0,4%, mencapai 8.598,70 setelah dua hari berturut-turut mengalami pelemahan. Penguatan ini didominasi oleh sektor pertambangan yang melonjak 1,2%, berkat reli harga komoditas global. Saham-saham raksasa pertambangan seperti BHP, Rio Tinto, dan Fortescue masing-masing naik 1,2%, 1,8%, dan 0,9%.

    Sektor energi juga turut menikmati momentum positif setelah harga minyak global mengalami kenaikan 1%. Saham Woodside Energy naik 1,3% dan Santos bertambah 0,5%. Namun, tidak semua sektor bergerak positif; sektor teknologi dan konsumsi non-pokok terkoreksi, mengikuti jejak pelemahan indeks Nasdaq di Amerika Serikat. Para investor di Australia juga terlihat mulai mengalihkan dana dari saham-saham perbankan menuju komoditas, seiring kekhawatiran valuasi bank yang dianggap sudah mahal di tengah spekulasi bahwa siklus pelonggaran suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA) mendekati akhir.

    Bursa Asia Hati-hati Senin (22/9), di Tengah Ketidakpastian Visa H-1B

    Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 juga membukukan kenaikan moderat sebesar 0,2%, ditutup pada level 13.469,37.

    Kinerja positif di pasar Asia ini muncul setelah bursa global mengalami pelemahan pada sesi sebelumnya. Wall Street ditutup kompak di zona merah, dengan indeks Dow Jones turun 0,90%, S&P 500 melemah 0,53%, dan Nasdaq terkoreksi 0,38%. Investor memilih untuk mengambil jeda setelah reli lima hari beruntun, sembari menantikan rilis data ekonomi penting Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini.

    Kekhawatiran pasar juga tercermin dari kenaikan serentak pada yield obligasi AS, dipimpin oleh yield Treasury 10 tahun yang naik 7,3 basis poin menjadi 4,092%. Penguatan yield ini menandakan kehati-hatian pasar menjelang rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit Federal Reserve, serta pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung pada 9–10 Desember.
    Bursa Asia Melemah pada Selasa (18/11) Pagi, Mengekor Anjloknya Wall Street

    Di pasar komoditas dan aset kripto, emas mencapai level tertinggi dalam enam pekan terakhir, didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat. Di sisi lain, Bitcoin mengalami kemerosotan lebih dari 5%, diperdagangkan di level US$86.172, akibat aksi ambil untung oleh investor.

    Secara keseluruhan, pasar Asia pada hari Selasa menunjukkan stabilitas dengan fokus utama investor tertuju pada data ekonomi global dan arah kebijakan moneter dari Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Perkembangan dari ketiga ekonomi besar ini diperkirakan akan menjadi penentu langkah pasar dalam beberapa pekan ke depan.

  • TOWR Bagi Dividen Interim Rp400 Miliar: Catat Tanggal Pentingnya!

    TOWR Bagi Dividen Interim Rp400 Miliar: Catat Tanggal Pentingnya!

    KalselBabusalam.com – JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) kembali menegaskan komitmennya untuk senantiasa memberikan nilai tambah optimal bagi para pemegang saham. Hal ini diwujudkan melalui penetapan pembagian dividen interim untuk tahun buku 2025.

    Keputusan strategis ini diambil oleh jajaran direksi dan telah mendapatkan restu dari dewan komisaris pada tanggal 1 Desember 2025, menandakan langkah positif perusahaan dalam mengapresiasi dukungan investor.

    Monalisa Irawan, selaku Sekretaris Perusahaan TOWR, mengumumkan bahwa total dividen yang akan dialokasikan mencapai Rp 400 miliar. Angka ini setara dengan Rp 6,87 untuk setiap lembar saham yang dimiliki oleh investor.

    PAM Mineral (NICL) Tebar Dividen Interim Rp 159,53 miliar, Cek Jadwalnya

    Monalisa menjelaskan, penetapan dividen interim ini didasari oleh kinerja keuangan perseroan yang solid hingga tanggal 30 September 2025.

    Sepanjang periode Januari hingga September 2025, TOWR berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,55 triliun, menunjukkan pertumbuhan signifikan 4,41% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan laba ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bersih yang mencapai 2,52%, menembus angka Rp 9,68 triliun.

    Pada waktu yang bersamaan, total aset perusahaan juga mengalami peningkatan tipis, mencapai Rp 78,29 triliun dari posisi penutupan tahun 2024. Perusahaan terus menunjukkan stabilitas dalam pengelolaan asetnya.

    Sementara itu, liabilitas TOWR tercatat sebesar Rp 51,96 triliun, berbanding dengan ekuitas yang mencapai Rp 26,32 triliun. Kondisi keuangan ini diperkuat oleh saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 20,88 triliun, yang menjadi landasan kuat tambahan bagi perseroan untuk mendistribusikan dividen interim ini.

    Dalam rangka pembagian dividen ini, TOWR telah menetapkan tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 9 Desember 2025. Sementara itu, tanggal ex dividen akan jatuh sehari setelahnya, yakni pada 10 Desember 2025.

    Multi Bintang (MLBI) Rilis Dividen Interim Rp 400,33 Miliar, Cek Jadwalnya

    Para pemegang saham yang berhak menerima dividen adalah mereka yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per tanggal 11 Desember 2025. Adapun jadwal pembayaran dividen sendiri direncanakan akan dilaksanakan pada 23 Desember 2025.

  • Market Share Syariah RI Rendah? Ini Kata PEBS UI!

    Market Share Syariah RI Rendah? Ini Kata PEBS UI!


    KalselBabusalam.com – Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, ternyata masih menghadapi tantangan besar dalam pengembangan perbankan syariah. Pangsa pasar perbankan syariah Indonesia dilaporkan masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara Muslim lain yang memiliki populasi lebih kecil. Pernyataan ini disampaikan oleh Rahmatina Awaliah Kasri, Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI).

    Berdasarkan catatan PEBS FEB UI, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan baru mencapai 7,3 persen, padahal jumlah penduduknya mencapai 242,7 juta jiwa. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Arab Saudi yang memiliki pangsa pasar perbankan syariah sebesar 73,5 persen dengan total populasi 31,5 juta jiwa. Demikian pula Malaysia, yang dengan 20 juta penduduk, berhasil mencapai pangsa pasar 33,2 persen. Kesenjangan ini menunjukkan potensi besar yang belum tergarap optimal di Indonesia.

    Melihat kondisi tersebut, Rahmatina menekankan pentingnya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air. “Kita harus terus mengupayakan kenaikan pangsa pasar perbankan syariah menuju 15-20 persen yang merupakan ambang psikologis yang diperlukan agar pertumbuhan industri terjadi secara berkelanjutan dan saling memperkuat (self-reinforcing),” ujar Rahmatina. Pernyataan ini disampaikan dalam acara peluncuran Indonesia Sharia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin, 1 Desember 2025.

    Meskipun pangsa pasar perbankan syariah masih menjadi pekerjaan rumah, ada kabar baik dari sisi aset keuangan syariah. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, total aset keuangan syariah menunjukkan pertumbuhan impresif, mencapai Rp 3.029 triliun per September 2025. Angka ini merepresentasikan peningkatan signifikan sebesar 68 persen dibandingkan posisi tahun 2020 yang tercatat Rp 1.801 triliun, mengindikasikan kepercayaan dan minat yang terus tumbuh pada sektor ini.

    Aset keuangan syariah tersebut terdistribusi ke berbagai sektor. Pasar modal syariah menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 1.840,5 triliun. Sementara itu, perbankan syariah menyumbang Rp 1.006,8 triliun, dan industri keuangan non-bank syariah tercatat sebesar Rp 182,2 triliun. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah Indonesia mulai berkembang di berbagai lini.

    Menatap ke depan, PEBS FEB UI memproyeksikan aset keuangan syariah akan terus mengalami ekspansi. Dalam skenario optimis, aset ini diprediksi mencapai Rp 3.715 triliun pada tahun 2026. Sementara itu, skenario moderat memperkirakan aset keuangan syariah tahun depan sebesar Rp 3.565 triliun. Rahmatina bahkan menyatakan optimisme bahwa dalam lima tahun ke depan, aset keuangan syariah berpotensi melipatgandakan nilainya, menembus angka Rp 5.439 triliun dalam skenario paling positif, menegaskan potensi besar industri keuangan syariah di masa depan.

    Pilihan Editor: Rencana Besar Gurita Bisnis Muhammadiyah

  • IHSG Desember: Santa Claus Rally Datang? Analis Ungkap Peluangnya!

    IHSG Desember: Santa Claus Rally Datang? Analis Ungkap Peluangnya!

    KalselBabusalam.com – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki momentum untuk melanjutkan penguatan sepanjang Desember 2025.

    Pada perdagangan Senin (1/12/2025), IHSG berhasil ditutup menguat 0,47% mencapai level 8.548,78 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kinerja positif ini melengkapi tren kenaikan yang signifikan, di mana dalam sebulan terakhir IHSG telah menguat sebesar 3,31%. Secara year-to-date (YTD), indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini sudah melambung 20,75% sepanjang tahun 2025.

    Riset dari BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan data menarik, di mana IHSG tercatat memiliki probabilitas kenaikan hingga 80% pada bulan Desember dalam sepuluh tahun terakhir. Secara historis, Desember dikenal sebagai salah satu periode paling bullish dalam kalender perdagangan saham.

    “Momentum window dressing, Santa Claus rally, dan arus dana asing pada akhir tahun biasanya menjadi pendorong utama performa positif pasar,” demikian yang tertulis dalam riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin (1/12). Beberapa saham yang secara historis menunjukkan probabilitas kenaikan 80% di bulan Desember selama satu dekade terakhir mencakup PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

    Riset tersebut menambahkan, “Dengan kombinasi probabilitas IHSG yang tinggi dan reliabilitas saham-saham pilihan tersebut, Desember menjadi periode yang sangat menarik untuk menerapkan strategi trading berbasis seasonality.”

    Dari kacamata global, prospek pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025 kembali menunjukkan peningkatan signifikan, bergerak menuju 79–80%, sebuah angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan awal bulan yang berada di kisaran 40%. “Jika pemangkasan suku bunga ini benar-benar terwujud, IHSG berpotensi menguat berkat masuknya aliran dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, serta dorongan positif pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan perbankan,” jelas riset tersebut.

    Prospek Pergerakan IHSG Menurut Analis

    Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengemukakan bahwa IHSG telah mengalami reli yang substansial sepanjang 2025. Memasuki bulan Desember, terdapat dua sentimen utama yang diperkirakan akan menjadi motor penggerak pasar: fenomena window dressing dan Santa Claus rally, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter baik di tingkat global maupun regional.

    “Kedua sentimen tersebut berpotensi besar menarik masuknya dana asing ke pasar berkembang, termasuk Indonesia,” ungkap David, dilansir dari Kontan.

    Meskipun demikian, David tetap mengingatkan para investor akan adanya risiko eksternal yang perlu diwaspadai. Risiko-risiko tersebut meliputi ketidakpastian seputar suku bunga global, tekanan inflasi, penguatan dolar AS, serta kondisi overbought yang terjadi pasca kenaikan signifikan. “Ekspektasi kami, investor akan cenderung lebih berhati-hati menjelang tahun 2026,” tutur David. Ia memproyeksikan pergerakan IHSG akan cenderung sideways atau mendatar pada rentang 8.450–8.650 sepanjang Desember 2025.

    Proyeksi KISI: IHSG Bisa Tembus 8.800

    Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, juga turut melihat adanya potensi penguatan IHSG di bulan Desember. Proyeksi positif ini didukung oleh beberapa faktor, di antaranya potensi pelonggaran kebijakan The Fed, kuatnya likuiditas domestik, serta rotasi dana yang lazim terjadi pada akhir tahun.

    Secara realistis, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 8.550–8.800. Bahkan, Wafi menambahkan bahwa indeks ini masih berpeluang untuk naik lebih tinggi lagi jika Santa Claus rally dan window dressing berlangsung dengan sangat kuat. Namun, ia juga tidak luput mengingatkan akan adanya risiko profit taking pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) serta potensi tensi geopolitik global yang bisa memengaruhi pasar.

    Sektor Penopang dan Rekomendasi Saham

    Menurut David Kurniawan, penguatan IHSG hingga saat ini masih ditopang oleh saham-saham konglomerasi dengan valuasi premium. Jika tren ini dibarengi dengan perbaikan kinerja emiten bluechip, David menilai level IHSG di 9.000 sangat mungkin tercapai.

    Sektor-sektor yang diperkirakan akan menunjukkan kinerja positif sepanjang Desember 2025 meliputi:

    • Sektor konsumer dan ritel, didorong oleh peningkatan belanja akhir tahun.
    • Sektor properti dan real estate, seiring dengan ekspektasi suku bunga yang lebih bersahabat.
    • Sektor perbankan dan finansial, didukung oleh potensi kenaikan kredit konsumsi dan properti.

    Sebaliknya, David mengidentifikasi sektor siklikal yang berbasis ekspor dan komoditas cenderung rawan terhadap tekanan akibat gejolak global. “Saham dengan valuasi tinggi dan spekulatif juga berisiko tinggi mengalami koreksi jika risiko meningkat atau terjadi aksi profit taking,” imbuh David.

    Berikut adalah rekomendasi beli saham dari David:

    • UNVR — target Rp 3.000
    • MYOR — target Rp 2.700
    • INDF — target Rp 11.200

    Sementara itu, Muhammad Wafi dari KISI memproyeksikan sektor penopang IHSG akan berasal dari teknologi, industrial, infrastruktur, serta komoditas seperti emas dan nikel. Di sisi lain, sektor yang berpotensi menjadi pemberat adalah perbankan dan consumer staples, yang menurutnya belum menunjukkan perbaikan permintaan yang signifikan.

    Rekomendasi saham dari Wafi untuk Desember 2025 adalah:

    • TOWR — target Rp 700
    • ISAT — target Rp 2.800
    • ACES — target Rp 780
    • CPIN — target Rp 5.700
    • HRUM — target Rp 1.100
    • ARTO — target Rp 3.300
    • DNAR — target Rp 300

  • IHSG Sesi I (1/12) Menguat, Saham Bakrie jadi Manggung

    IHSG Sesi I (1/12) Menguat, Saham Bakrie jadi Manggung

    KalselBabusalam.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif sepanjang tiga jam pertama perdagangan hari ini, Senin (1/12/2025). Sejumlah saham dari perusahaan konglomerasi menjadi motor penggerak penguatan indeks pada sesi I perdagangan.

    Menurut data dari Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat tipis 0,11% pada sesi I, mencapai level 8.517,81. Pergerakan indeks selama perdagangan sesi I menyentuh titik tertinggi di 8.553,62 dan titik terendah di 8.493,24.

    Sektor saham konglomerat, khususnya yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie, menunjukkan performa yang solid dengan mayoritas saham mencatatkan kenaikan. PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) memimpin penguatan dengan lonjakan signifikan sebesar 21,32% ke harga Rp1.195. Perlu diketahui, Bakrie memegang 5,19% saham ENRG melalui PT Bakrie Kalila Investment.

    Baca Juga: Pesona Saham Keluarga Bakrie, Saat Emiten 7 Samurai Manggung Kembali (BUMI, BRMS, Hingga ENRG)

    Selain ENRG, saham-saham Bakrie lainnya juga terpantau menguat. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik 7,87%, PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) menguat 9,09%, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 2,46%, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menguat 1,54%.

    Baca Juga: Kasus Diduga Akses Ilegal Rekening Sekuritas Mirae (YP) Rugikan Investor Rp90 Miliar

    Saham-saham di sektor perkebunan dan media yang terkait dengan Bakrie juga mengalami kenaikan. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) mencatatkan penguatan sebesar 0,97%, sementara PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA) naik 3,57%.

    Selain grup Bakrie, saham-saham yang terkait dengan Hapsoro Sukmonohadi atau Happy Hapsoro juga menunjukkan performa positif. PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) naik 17,3%, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 1,89%, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) menguat 2,68%.

    Baca Juga: Semarak IPO Desember, Menunggu 13 Kejutan Bersama SUPA

    Kenaikan harga saham MINA hari ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung sejak pekan sebelumnya. Dilansir dari data periode 24–28 November 2025, harga saham MINA tercatat telah melonjak sebesar 55,46%.

    Saham-saham yang terkait dengan Sugianto Kusuma alias Aguan juga turut mencatatkan kenaikan. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) naik 7,99% dalam tiga jam perdagangan ke level Rp8.450, sementara saham PT Primadaya Plastisindo Tbk. (PDPP) menguat tipis 0,55%. Di sisi lain, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) justru mengalami penurunan, melemah 3,92% ke Rp13.475 per saham.

    Terakhir, beberapa saham yang terafiliasi dengan Budi Hartono atau Grup Djarum juga terpantau menguat. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 1,21%, PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) menguat 1,3%, dan PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) menguat 0,36%.

    Analis Phintraco Sekuritas menilai bahwa secara teknikal, penguatan IHSG pada sesi I hari ini disebabkan oleh pembentukan Death Cross pada MACD yang disertai dengan Stochastic RSI yang mengarah ke area oversold. Dengan demikian, para analis memprediksi IHSG berpotensi mengalami pelemahan pada sisa perdagangan hari ini.

    “Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 8.475–8.550 pada perdagangan sesi II hari ini,” ujarnya, dilansir dari Bisnis.com, Senin (1/12/2025).

    _________

    Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. KalselBabusalam.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

  • Harga Aset Kripto Anjlok Tertekan Aksi Jual, Begini Kata OJK

    Harga Aset Kripto Anjlok Tertekan Aksi Jual, Begini Kata OJK

    KalselBabusalam.com, DENPASAR – Gejolak pasar aset kripto belakangan ini, dengan penurunan harga yang cukup signifikan, menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di tengah sentimen global yang kurang menggembirakan, OJK mengimbau para investor untuk lebih waspada dan meningkatkan literasi terkait investasi berisiko tinggi ini.

    Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, dilansir dari KalselBabusalam.com, menekankan bahwa sebagian besar aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia adalah instrumen non-domestik. Hal ini membuat pasar kripto lokal sangat rentan terhadap fluktuasi harga global.

    Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa aset kripto memiliki karakteristik unik, terutama sensitivitasnya terhadap volatilitas harga. Perubahan kondisi global dapat memicu reaksi cepat dan signifikan pada harga kripto yang diperdagangkan di bursa domestik.

    Melihat kondisi ini, OJK mendorong para investor untuk memperdalam pemahaman tentang karakteristik investasi kripto. “Oleh karena itu, OJK mengimbau seluruh investor dan konsumen aset kripto domestik untuk terus meningkatkan pemahaman akan karakteristik instrumen ini,” tegas Hasan saat ditemui dalam agenda OECD di Bali, Senin (1/12/2025).

    Sebagai upaya berkelanjutan, OJK secara aktif menggelar kegiatan literasi keuangan digital di berbagai kota dan daerah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai perdagangan kripto, sehingga investor dan konsumen dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak.

    Perlu diketahui, harga Bitcoin (BTC) sempat mengalami penurunan tajam, bahkan menyentuh level di bawah US$ 90.000 dan hampir keluar dari zona US$ 80.000. Padahal, pada Oktober 2025, BTC sempat mencapai rekor tertinggi (ATH) di angka US$ 125.000. Tekanan serupa juga dirasakan oleh aset kripto lainnya, seperti Solana (SOL), Ethereum (ETH), dan BNB.

    Penurunan drastis ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (Fed Rate) menjelang Desember 2025. Selain itu, kebijakan SEC yang tidak menjadikan aset kripto sebagai fokus utama dalam prioritas pemeriksaan tahun 2026 juga turut memengaruhi sentimen pasar.

    Sentimen negatif diperkuat oleh Indeks Fear & Greed global yang merosot tajam ke level 21, menunjukkan tingkat ketakutan ekstrem di kalangan investor. Kondisi ini memengaruhi keputusan investasi baik investor ritel maupun institusi di berbagai negara.

  • Investasi Saham Pemula: 7 Langkah Aman Raih Untung Maksimal

    Investasi Saham Pemula: 7 Langkah Aman Raih Untung Maksimal

    KalselBabusalam.com – Investasi saham kian populer sebagai jalan strategis untuk membangun kekayaan jangka panjang secara disiplin dan terencana. Namun, banyak pemula yang tertarik terjun ke pasar modal sering kali dihadapkan pada kebingungan mengenai langkah awal yang tepat dan aman. Minimnya pemahaman dasar seringkali menjadi pemicu investor baru terjebak dalam keputusan emosional yang berujung pada kerugian. Oleh karena itu, panduan komprehensif ini dirancang untuk membekali siapa pun agar dapat memahami proses investasi saham secara lebih terstruktur, praktis, dan realistis.

    Dilansir dari Investopedia, berikut ini tujuh langkah esensial untuk memulai investasi saham, khususnya bagi individu yang baru membangun portofolio dan ingin melakukannya secara bertahap serta terukur.

    1. Menetapkan tujuan investasi yang jelas

    Langkah fundamental dalam memulai investasi saham adalah menentukan tujuan yang spesifik dan terukur. Tujuan ini bisa bervariasi, mulai dari target jangka pendek seperti dana liburan impian, hingga sasaran jangka panjang seperti persiapan pensiun atau pendidikan anak. Hindari tujuan yang terlalu umum seperti “ingin kaya” atau “sekadar menambah pemasukan”. Sebaliknya, rumuskan target Anda dalam bentuk angka dan waktu yang konkret, misalnya “mengumpulkan dana Rp 500 juta untuk pensiun dalam 20 tahun”. Tujuan yang terperinci tidak hanya membantu Anda memilih strategi investasi yang paling sesuai, tetapi juga menjaga konsistensi di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

    Selain itu, tujuan investasi bukanlah hal yang statis; ia perlu dievaluasi dan disesuaikan secara berkala. Perubahan kondisi hidup, seperti pernikahan, pergantian pekerjaan, atau bertambahnya tanggungan, tentu akan memengaruhi prioritas keuangan dan arah investasi Anda. Fleksibilitas dalam mengevaluasi tujuan adalah kunci keberhasilan jangka panjang.

    2. Menentukan kemampuan dana yang bisa diinvestasikan

    Sebelum melangkah lebih jauh untuk membeli saham, sangat penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan pribadi Anda. Hitung total pemasukan dan pengeluaran rutin secara cermat untuk mengetahui berapa dana yang realistis dapat dialokasikan untuk investasi. Pastikan pula bahwa dana darurat Anda telah terpenuhi, setidaknya untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan. Dana darurat ini berfungsi sebagai benteng perlindungan, mencegah Anda terpaksa menjual saham saat pasar sedang lesu hanya karena kebutuhan mendesak. Prinsip utama yang harus selalu dipegang adalah hanya menginvestasikan dana yang tidak akan mengganggu kebutuhan primer Anda. Ingat, investasi saham bukan tempat untuk dana kebutuhan harian atau dana yang sewaktu-waktu harus digunakan.

    3. Memahami toleransi risiko dan gaya investasi

    Setiap investor memiliki tingkat kenyamanan yang unik terhadap risiko. Mengenali toleransi risiko pribadi Anda adalah kunci untuk memilih instrumen investasi yang selaras dengan karakter dan kondisi finansial Anda. Investor dengan toleransi risiko rendah umumnya akan lebih nyaman dengan saham berkapitalisasi besar dan stabil yang cenderung kurang fluktuatif. Sebaliknya, investor dengan toleransi risiko tinggi mungkin akan lebih tertarik pada saham pertumbuhan yang menawarkan potensi imbal hasil yang lebih besar, namun tentu saja disertai risiko yang lebih tinggi pula.

    Di samping toleransi risiko, penting juga untuk menentukan gaya investasi Anda. Apakah Anda lebih nyaman mengelola portofolio sendiri secara aktif, melakukan riset mendalam dan transaksi rutin? Atau Anda lebih memilih pendekatan pasif melalui reksadana indeks atau ETF yang dikelola secara profesional? Menentukan gaya ini sejak awal akan membuat proses investasi Anda lebih terarah, terkontrol, dan sesuai dengan kepribadian Anda.

    4. Memilih jenis akun investasi

    Pilihan jenis akun investasi memiliki dampak signifikan terhadap fleksibilitas, kewajiban pajak, dan strategi jangka panjang Anda. Akun reguler umumnya cocok untuk tujuan investasi yang lebih fleksibel, memberikan keleluasaan dalam penarikan dana. Sementara itu, akun khusus pensiun seringkali menawarkan manfaat pajak yang menarik, namun biasanya datang dengan batasan tertentu terkait penarikan dana dan kontribusi. Oleh karena itu, sesuaikan jenis akun dengan tujuan finansial yang telah Anda tetapkan. Jika fokus utama Anda adalah persiapan masa pensiun, maka akun dengan fasilitas perlindungan pajak akan menjadi pilihan yang lebih relevan dan menguntungkan. Jangan lupa pula untuk memperhatikan biaya administrasi, komisi transaksi, dan fitur tambahan yang disediakan oleh broker, karena faktor-faktor ini akan sangat memengaruhi kenyamanan dan efisiensi investasi jangka panjang Anda.

    5. Memilih broker saham yang terpercaya

    Broker adalah perantara utama dalam setiap aktivitas jual beli saham Anda, sehingga pemilihannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pastikan broker yang Anda pilih memiliki platform yang stabil, mudah digunakan, dan didukung oleh sistem keamanan data yang kuat. Fitur-fitur seperti grafik real-time, laporan keuangan emiten, serta data analisis yang mudah diakses akan menjadi nilai tambah yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan investasi. Reputasi broker juga merupakan prioritas utama; pilih broker yang diawasi secara ketat oleh otoritas resmi dan memiliki rekam jejak pelayanan yang transparan, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan nasabah.

    6. Mengisi dan mendanai akun investasi

    Setelah akun investasi Anda berhasil dibuat, tahap berikutnya adalah mengisi saldo investasi Anda. Metode umum yang sering digunakan adalah transfer bank, meskipun beberapa broker modern juga telah menyediakan opsi pendanaan otomatis yang lebih praktis. Sangat disarankan untuk menerapkan pola investasi rutin, atau yang sering disebut sebagai dollar-cost averaging, agar risiko lebih terkendali. Strategi ini memungkinkan Anda untuk membeli saham secara konsisten, tanpa terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga jangka pendek di pasar. Pendanaan berkala juga secara efektif membantu membentuk kebiasaan disiplin dalam mengelola keuangan. Dengan cara ini, investasi akan menjadi bagian integral dari perencanaan keuangan Anda, bukan sekadar keputusan sesaat yang emosional.

    7. Memulai pembelian saham secara bertahap

    Langkah terakhir adalah mulai membeli saham sesuai dengan rencana investasi yang telah Anda susun dengan cermat. Hindari godaan untuk membeli dalam jumlah besar tanpa analisis yang memadai. Sebaliknya, lakukan kajian sederhana terhadap kinerja historis perusahaan, prospek pertumbuhan industri tempatnya beroperasi, serta stabilitas keuangan emiten. Pemahaman dasar ini akan membantu Anda mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur. Mulailah dengan nominal kecil sambil terus mempelajari dinamika pasar dan bagaimana saham yang Anda pilih bereaksi terhadapnya. Seiring waktu, pengalaman praktis yang Anda dapatkan akan membentuk strategi investasi yang lebih matang, konsisten, dan pada akhirnya, lebih menguntungkan.