Kategori: Finance

  • SSIA Alihkan Aset Rp 1,66 Triliun: Fokus Bisnis Hotel!

    SSIA Alihkan Aset Rp 1,66 Triliun: Fokus Bisnis Hotel!

    KalselBabusalam.com JAKARTA – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) telah melaksanakan langkah strategis berupa restrukturisasi internal signifikan pada 1 Desember. Aksi korporasi ini melibatkan pengalihan saham dan aset tanah ke sejumlah anak usahanya, dengan total nilai mencapai Rp 1,66 triliun.

    Dilansir dari keterbukaan informasi pada 3 Desember 2025, SSIA melaporkan bahwa restrukturisasi ini mencakup pengalihan seluruh saham perseroan di PT Sitiagung Makmur (SAM), PT Surya Internusa Hotels (SIH), dan PT Surya Semesta Realti (SSR) kepada PT Suryalaya Anindita International (SAI). Tidak hanya itu, saham PT TCP Internusa (TCP) dalam SAM juga dialihkan kepada SAI. Pengalihan saham ini dilakukan melalui mekanisme inbreng, dengan nilai inbreng saham SAM sebesar Rp366,93 miliar, saham SIH senilai Rp379,05 miliar, dan saham SSR senilai Rp117,66 miliar. Sebagai imbalannya, SAI menerbitkan saham baru kepada Perseroan dan TCP.

    Selain pengalihan saham, SSIA juga memindahkan aset tanah milik TCP kepada SAI. Tanah seluas 8.525 meter persegi yang berlokasi strategis di Jakarta Selatan ini memiliki nilai inbreng sebesar Rp803,55 miliar. Pembayaran atas pengalihan aset tanah ini juga dilakukan oleh SAI dengan menerbitkan saham baru kepada TCP.

    Intip Rekomendasi Saham BUMA Internasional Grup (DOID) Saat Kinerja Kurang Memuaskan

    Manajemen SSIA menjelaskan bahwa transaksi ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk menata ulang, merestrukturisasi, dan mengelompokkan unit usaha serta aset-aset yang dimiliki atau dikelola oleh entitas anaknya. Tujuan utama dari reorganisasi ini adalah untuk menciptakan efisiensi dan sinergi yang lebih baik dalam operasional bisnis.

    Melalui transaksi ini, seluruh entitas anak yang beroperasi di sektor perhotelan kini dikonsolidasikan di bawah SAI. Penggabungan portofolio produk dan aset perhotelan yang bergerak dalam bidang usaha sejenis ini diharapkan dapat menghasilkan sinergi kuat dalam pengembangan usaha perhotelan, sekaligus memanfaatkan prospek pertumbuhan industri yang menjanjikan. Meskipun demikian, manajemen menegaskan bahwa pasca-pelaksanaan transaksi, SAM, SIH, SSR, dan TCP akan tetap menjadi perusahaan terkendali di bawah SSIA.

    Aset yang terkonsolidasi ini mencakup seluruh hotel yang saat ini dimiliki oleh SSIA, ditambah dengan beberapa lahan (land bank) yang direncanakan untuk dikembangkan sebagai hotel atau fasilitas penunjang bisnis perhotelan di masa mendatang. Penggabungan ini secara otomatis akan meningkatkan ekuitas dan total aset SAI. Peningkatan aset ini diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan bagi SSIA dalam upaya mencari pembiayaan untuk unit perhotelannya di kemudian hari.

    Manajemen menambahkan, “Saat ini perseroan lebih dikenal sebagai perusahaan konstruksi dan kawasan industri. Sementara unit perhotelannya masih belum terpublikasi secara luas.” Oleh karena itu, konsolidasi ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat citra dan pengakuan publik terhadap unit bisnis perhotelan SSIA di pasar.

  • Investor Asing Kembali Masuk! Rupiah Menguat?

    Investor Asing Kembali Masuk! Rupiah Menguat?


    KalselBabusalam.com – Pasar keuangan domestik Indonesia kembali menunjukkan daya tariknya bagi investor global. Bank Indonesia melaporkan aliran modal asing yang signifikan, mencapai Rp 14,08 triliun, masuk ke pasar domestik pada pekan pertama Desember 2025, tepatnya dari tanggal 1 hingga 4 Desember. Data ini menjadi indikator positif kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, merinci bahwa total modal asing tersebut terbagi ke beberapa instrumen investasi. Sebanyak Rp 2,11 triliun mengalir ke pasar saham, menunjukkan minat investor pada ekuitas Indonesia. Sementara itu, pasar SBN (Surat Berharga Negara) berhasil menarik Rp 1,06 triliun. Bagian terbesar dari aliran dana ini, yaitu Rp 10,92 triliun, ditempatkan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sebagaimana disampaikan Ramdan dalam keterangan resminya pada Jumat, 5 Desember 2025.

    Namun, di tengah masuknya modal asing pekan ini, data setelmen dari awal tahun hingga 4 Desember 2025 juga menunjukkan adanya pergerakan jual neto oleh investor nonresiden. Tercatat, nonresiden melakukan jual neto sebesar Rp 27,93 triliun di pasar saham, Rp 2,79 triliun di pasar SBN, dan Rp 122,14 triliun di SRBI. Meskipun demikian, persepsi risiko Indonesia tampak membaik, tercermin dari premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun yang turun menjadi 71,18 bps per 4 Desember 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi 28 November 2025 yang sebesar 72,45 bps, menandakan penurunan risiko gagal bayar yang lebih baik di mata pasar global.

    Kinerja pasar saham domestik turut menunjukkan penguatan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup pada level 8.632,761 pada akhir pekan, Jumat, 5 Desember 2025. Posisi ini menguat signifikan sebesar 1,46 persen jika dibandingkan dengan posisi pekan sebelumnya yang berada di level 8.508,706. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad, mengonfirmasi bahwa kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 1,39 persen, mencapai Rp 15.844 triliun dari Rp 15.626 triliun pada pekan sebelumnya.

    Tak hanya itu, aktivitas transaksi harian di bursa juga menunjukkan dinamika positif. Rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat sebesar 2,13 persen, mencapai 2,66 juta kali transaksi, dari 2,61 juta kali transaksi pada pekan lalu. Namun, rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini mengalami perubahan, turun sebesar 8,12 persen menjadi 46,39 miliar lembar saham, dari 50,49 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya, seperti yang disampaikan Kautsar dalam pernyataan resminya.

    Pilihan Editor: Risiko Besar Revisi UU P2SK bagi Bank Indonesia

  • SSMS Targetkan Pertumbuhan Produksi Sawit Double Digit: Strateginya?

    SSMS Targetkan Pertumbuhan Produksi Sawit Double Digit: Strateginya?

    KalselBabusalam.com – JAKARTA. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), salah satu emiten kelapa sawit terkemuka, menargetkan pertumbuhan produksi yang ambisius, mencapai angka double digit pada tahun 2026. Target signifikan ini didukung oleh berbagai strategi korporasi yang terukur, termasuk akuisisi strategis dan optimalisasi operasional.

    Salah satu langkah fundamental menuju peningkatan produksi dan pendapatan di masa mendatang adalah penuntasan akuisisi PT Sawit Mandiri Lestari (SML) pada tanggal 24 November 2025 lalu. Dalam transaksi vital ini, SSMS secara resmi membeli 98.328 saham SML yang sebelumnya dimiliki oleh PT Citra Borneo Indah (CBI), dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,6 triliun. Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Jap Hartono, menjelaskan bahwa transaksi ini merupakan bagian dari aksi afiliasi. Hal ini dikarenakan CBI merupakan induk usaha dari Perseroan dan juga pemegang saham mayoritas SSMS dengan kepemilikan sebesar 62,30%.

    Pendanaan untuk akuisisi penting ini bersumber dari fasilitas pinjaman sindikasi bank yang diatur dalam Akta Perjanjian Kredit Sindikasi No. 17 dan Akta Perjanjian Line Facility Pembiayaan Sindikasi Musyarakah No. 18, keduanya bertanggal 18 November 2025. Jap Hartono menegaskan, “Aksi akuisisi ini selaras dengan strategi ekspansi dan keberlanjutan SSMS, dan didukung oleh kondisi fundamental yang sehat serta rencana ekspansi ke depan.”

    SML sendiri adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah beroperasi secara komersial di Kalimantan Tengah. Dengan area perkebunan seluas 11.046 hektare (ha) yang strategis, SML menawarkan potensi besar untuk memperkuat rantai pasok SSMS, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan usaha di industri perkebunan kelapa sawit. Lahan kebun SML berada dalam wilayah yang sama dengan operasional SSMS, dan memiliki umur tanaman yang relatif muda. Ini diharapkan mampu menambah volume produksi kelapa sawit SSMS secara signifikan dan mempercepat ekspansi geografis, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan kinerja perusahaan di masa mendatang.

    Tepat sebelum finalisasi akuisisi SML, SSMS telah berhasil mengamankan fasilitas pembiayaan sindikasi maksimal Rp 5,2 triliun dari perbankan pada 18 November 2025, yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Dana sindikasi tersebut dialokasikan untuk berbagai tujuan strategis, termasuk refinancing, pengembangan kebun, investasi infrastruktur, pembiayaan keberlanjutan, akuisisi saham SML, serta penguatan modal kerja SSMS. Komitmen terhadap keberlanjutan juga ditegaskan melalui persetujuan perubahan susunan direksi baru-baru ini, termasuk pengangkatan Chief Sustainability Officer (CSO), yang memperkuat praktik Environmental, Social & Governance (ESG) perusahaan.

    Jap Hartono kembali menekankan bahwa “Aksi korporasi akuisisi PT SML ini memperkuat rantai pasok dan efisiensi operasional SSMS, khususnya di Kalimantan Tengah, sejalan dengan visi ekspansi jangka panjang perusahaan.”

    Saat ini, SSMS mengoperasikan 23 perkebunan kelapa sawit dengan total luas area sekitar 115.584 ha. Kinerja operasional ini didukung oleh 8 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan total kapasitas olah sebesar 540 ton per jam, 1 Pabrik Kelapa Sawit (KCP) berkapasitas 180 ton per hari, serta 1 unit Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas 1,5 Megawatt. Setiap wilayah operasional SSMS juga telah dilengkapi dengan fasilitas pabrik kelapa sawit (PKS) yang ditempatkan secara strategis, guna memastikan efisiensi biaya produksi serta menjaga kualitas Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan. Dengan sistem distribusi pabrik yang merata, SSMS berhasil meminimalkan waktu dan biaya transportasi dari kebun ke pabrik, sekaligus mempertahankan kualitas CPO.

    Sebagai bagian dari strategi integrasi vertikal, SSMS melalui entitas anaknya, PT Citra Borneo Utama (CBUT), juga melakukan pengolahan lanjutan terhadap CPO menjadi produk turunan kelapa sawit. Fasilitas hilir yang dimiliki meliputi pabrik penyulingan dan fraksinasi dengan kapasitas 2.500 ton per hari, serta Pabrik Penghancur Inti (Kernel Crushing Plant/KCP) berkapasitas 600 ton per hari. Produk-produk utama yang dihasilkan mencakup RBD Palm Olein, RBD Stearin, RBD Palm Oil (RBDPO), Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), Crude Palm Kernel Oil (CPKO), Palm Kernel Expeller (PKE), serta produk kemasan bantal dan botol.

    Mengenai target produksi, Deni Agustinus, Corporate Secretary SSMS, dilansir dari Kontan, menyampaikan bahwa perseroan menargetkan produksi minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) SSMS sebanyak 536.231 metrik ton sepanjang tahun 2025. Target ini menunjukkan kenaikan 16% secara tahunan (year on year/YoY) dari tahun 2024. “Sementara itu, produksi tandan buah segar (TBS) ditargetkan mencapai 1.557.697 metrik ton sepanjang 2025, naik 3% YoY,” ujarnya. Data terakhir menunjukkan bahwa SSMS mencatatkan produksi CPO mix sebanyak 264.433 metrik ton serta TBS inti dan plasma sebanyak 813 ribu metrik ton per semester I 2025. Angka ini masing-masing setara dengan 44,7% dan 50,4% dari target tahunan 2025.

    Untuk tahun 2026, SSMS menetapkan proyeksi produksi TBS yang lebih ambisius, yaitu sebanyak 2.010.098 metrik ton. Angka ini menandai pertumbuhan 29% dari proyeksi sepanjang tahun 2025 dan naik 19% dari target awal tahun ini. “Untuk produksi CPO, perseroan menetapkan target produksi sebanyak 773.413 metrik ton di tahun depan. Ini tumbuh 44% dari forecast 2025, dan tumbuh 23% dari target awal 2025,” tutur Deni.

    Dari sisi kinerja keuangan, per 30 September 2025, SSMS membukukan laba bersih sebesar Rp 1 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 yang tercatat Rp 609,3 miliar. Laba bersih per saham pun mencapai Rp 105,40 per lembar. Sementara itu, pendapatan yang dikantongi sebesar Rp 11,01 triliun per kuartal III 2025, naik dari Rp 7,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini bahkan sudah melampaui 113% dari target pendapatan SSMS sepanjang tahun 2025. Pada periode ini, segmen minyak dan lemak nabati menyumbang Rp 10,3 triliun ke penjualan, sementara segmen perkebunan berkontribusi Rp 6,4 triliun per kuartal III 2025.

    SSMS juga memiliki tiga strategi utama yang akan terus dijaga dan ditingkatkan untuk kinerja ke depan. Pertama, efisiensi biaya operasional, khususnya biaya langsung, guna menjaga margin tetap optimal. Kedua, pemanfaatan keunggulan geografis, di mana seluruh perkebunan dan pabrik berada dalam satu hamparan wilayah. Hal ini mendukung logistik yang lebih efisien dan menekan biaya distribusi. Terakhir, leverage harga komoditas. Dengan tren harga CPO yang lebih tinggi, SSMS dapat memaksimalkan Average Selling Price (ASP) di level yang lebih kompetitif. Dengan kondisi industri CPO global dan domestik saat ini, SSMS optimistis pendapatan tahun 2026 pun bisa tumbuh double digit. Melansir Trading Economics, harga CPO saat ini berada di level MYR 4.146 per ton. “Proyeksi pendapatan tahun 2026 kami optimistis menargetkan tumbuh 10-20% dari target 2025,” ungkapnya.

    Deni Agustinus menambahkan bahwa SSMS optimistis dapat memberikan yang terbaik bagi para pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan tahun 2026, terutama setelah melakukan akuisisi PT SML. Perseroan juga masih mengkaji berbagai upaya untuk meningkatkan pencapaian. Melalui anak perusahaannya, PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), SSMS terus memperluas pemasaran produk hilir ke pasar domestik dan ekspor. “Lewat CBUT juga, kami mengkaji pengembangan produk turunan CPO terbaru, seperti produk minyak goreng dan pakan hewan ternak,” paparnya. Melansir RTI, saham SSMS saat ini berada di level Rp 1.680 per saham. Harganya telah naik 5,33% dalam sebulan terakhir dan 29,23% sejak awal tahun (year to date/YTD).

  • PT PP Digugat Pailit: Terancam Bangkrut?

    PT PP Digugat Pailit: Terancam Bangkrut?

    KalselBabusalam.com — PT PP (Persero) Tbk kembali menghadapi tantangan hukum setelah gugatan pailit dilayangkan oleh dua subkontraktor, PT Atap Perkasa dan CV Citra Pratama, di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 Desember 2025.

    Gugatan tersebut, yang telah terdaftar dengan nomor perkara 381/Pdt.Sus-Pailit/2025/PN Niaga.Jkt.Pst, berpusat pada klaim utang yang berasal dari KSO PP-Urban. Direktur Keuangan PT PP, Agus Purbianto, memastikan bahwa perseroan akan menanggapi proses hukum ini dengan serius dan kooperatif.

    “Perseroan akan bersikap kooperatif dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku dengan didampingi oleh kuasa hukum,” ujar Agus, dilansir dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 5 Desember 2025. Ia merinci bahwa PT Atap Perkasa adalah subkontraktor pekerjaan rangka dan penutup atap untuk proyek pembangunan Museum Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Sementara itu, CV Citra Pratama merupakan subkontraktor yang bertanggung jawab atas pekerjaan plafon fibercelulosa dan kisi-kisi WPC pada proyek yang sama.

    Dalam permohonan pailit ini, PT Atap Perkasa menuntut pembayaran utang sebesar Rp4,03 miliar, sedangkan CV Citra Pratama mengajukan klaim sebesar Rp6 miliar. “Secara garis besar, poin permohonan pailit yang diajukan atas utang KSO PP-Urban,” tegas Agus, menyoroti inti permasalahan yang dihadapi perusahaan konstruksi plat merah tersebut.

    Gugatan pailit terhadap PT PP bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada September 2025, dua perusahaan baja, PT Stahlindo Jaya Perkasa dan PT Sinar Baja Prima, juga pernah mengajukan permohonan serupa. Kedua perusahaan tersebut menagih utang masing-masing senilai Rp1,9 miliar dan Rp1,04 miliar. PT Stahlindo Jaya Perkasa sendiri dikenal sebagai subkontraktor pekerjaan struktur baja di proyek Museum Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi, Jambi.

    Kendati demikian, gugatan pertama tersebut akhirnya dicabut pada Rabu, 17 September 2025, memberikan sedikit kelegaan bagi PT PP kala itu. “Mengabulkan pencabutan permohonan pailit oleh para pemohon pailit,” jelas Agus mengenai hasil dari gugatan sebelumnya.

    Pilihan Editor: Risiko Besar Revisi UU P2SK bagi Bank Indonesia

  • Wall Street Loyo Jelang Inflasi AS: Peluang Buy on Weakness?

    Wall Street Loyo Jelang Inflasi AS: Peluang Buy on Weakness?

    Berita terkini dari KalselBabusalam.com melaporkan, indeks-indeks utama Wall Street memulai perdagangan Jumat (5/12/2025) dengan sentimen lesu. Para investor tampak menahan diri dari langkah signifikan, seiring antisipasi rilis laporan inflasi krusial yang telah lama tertunda, sebuah data yang berpotensi menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.

    Meskipun sentimen pasar cenderung berhati-hati, beberapa indeks utama menunjukkan pergerakan terbatas. Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average tercatat naik tipis 28,7 poin, atau setara 0,06%, mencapai level 47.879,6 pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, Indeks S&P 500 menguat 9,2 poin (0,13%) ke angka 6.866,32, dan Nasdaq Composite naik 62,6 poin (0,27%), mencapai 23.567,77.

    Fokus utama pasar kini tertuju pada Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), yang dikenal sebagai ukuran inflasi favorit The Fed. Laporan ini menjadi yang pertama setelah penundaan selama 43 hari akibat penghentian operasional pemerintah, yang sebelumnya membekukan publikasi data-data resmi. Laporan penting ini dijadwalkan akan dirilis pada pukul 10.00 waktu setempat.

    Berdasarkan alat CME FedWatch, pelaku pasar mengekspektasikan peluang sebesar 87% bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini. Prediksi investor tidak berhenti di situ, mereka juga mengantisipasi pemangkasan suku bunga tambahan pada Juni 2026. Para ekonom yang disurvei Reuters memproyeksikan inflasi PCE akan naik 2,8% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dari 2,7% pada Agustus, dengan inflasi bulanan diperkirakan stabil di 0,3%.

    Dari ranah korporasi, terdapat kabar menarik seputar akuisisi besar. Saham Warner Bros. Discovery melonjak 4,3% pada perdagangan pra-pasar. Kenaikan ini dipicu oleh kesepakatan Netflix untuk mengakuisisi salah satu aset paling berharga di Hollywood senilai US$72 miliar, mengakhiri perebutan sengit yang berlangsung selama berminggu-minggu. Namun, di sisi lain, saham Netflix justru mengalami penurunan 4,2%. Kim Forrest, CIO Bokeh Capital Partners, berkomentar, “Sangat menarik melihat Netflix akhirnya memenangkan persaingan, dan ini menegaskan fokus yang kian besar pada bisnis streaming, yang memang menjadi inti model bisnis mereka.”

    Rilis laporan PCE ini sangat signifikan karena hanya berselang beberapa hari sebelum pertemuan The Fed yang paling krusial dalam beberapa tahun terakhir. Dalam pertemuan tersebut, para pejabat akan berdebat mengenai perlunya penurunan suku bunga di tengah inflasi yang masih tinggi dan mandat bank sentral untuk menjaga lapangan kerja maksimal. Data indikator tenaga kerja sekunder, yang tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan berarti, memberikan amunisi bagi para pejabat yang cenderung hawkish, selagi bank sentral mencari bukti konkret progres menuju target inflasi 2%.

    Ekonom Kepala Commerzbank, Jörg Krämer, menyoroti dinamika internal The Fed. “Secara angka, kelompok yang mendukung suku bunga tetap sedikit lebih unggul. Namun, para gubernur tampaknya condong ke arah pemangkasan suku bunga,” jelasnya. Ia menambahkan, “Faktor penentu kemungkinan adalah ke mana Ketua Fed Jerome Powell berpihak, dan seberapa efektif ia meyakinkan anggota lain untuk mengikutinya.” Pernyataan-pernyataan bernada dovish dari sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir turut berperan dalam menopang selera risiko investor.

    Secara keseluruhan, indeks utama Wall Street berada pada jalur untuk mencatat kenaikan mingguan moderat, dengan S&P 500 kini hanya berjarak sekitar 1% dari rekor tertingginya. Di sisi lain, indeks small-cap domestik menunjukkan performa yang mengesankan dengan melonjak 1,2%, mengungguli pasar yang lebih luas. Hal ini mencerminkan rotasi investor menuju saham-saham yang sensitif terhadap potensi penurunan suku bunga, menandakan optimisme terhadap prospek ekonomi di tengah perubahan kebijakan moneter.

  • Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen? Ini Alasan Optimisme Kemenkeu!

    Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen? Ini Alasan Optimisme Kemenkeu!

    KalselBabusalam.com, Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan optimisme kuat terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025, menargetkan capaian 5,2 persen (year on year/yoy). Keyakinan ini tetap kokoh di tengah bayang-bayang tantangan global dan domestik yang berkelanjutan, didukung oleh serangkaian kebijakan strategis yang telah diimplementasikan serta instrumen kebijakan yang disiapkan untuk menopang pemulihan ekonomi nasional.

    Direktur Strategi Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi DJSEF Kemenkeu, Andriansyah, menjelaskan bahwa beberapa kebijakan krusial telah diperkenalkan sejak kuartal III-2025. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi menjelang akhir tahun, mencakup pengelolaan likuiditas perbankan melalui penempatan sebagian dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), program stimulus ekonomi yang dikenal dengan konsep “8+4+5”, serta Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat yang membutuhkan.

    “Kami tetap optimis bahwa target pertumbuhan ekonomi tahun ini, yang dipatok di angka 5,2 persen, dapat tercapai. Pencapaian ini sangat bergantung pada kebijakan-kebijakan yang telah kami terapkan, serta kebijakan yang akan kami implementasikan hingga akhir tahun dan beberapa bulan ke depan,” ujar Andriansyah, dilansir dari diskusi Bloomberg Technoz di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

    1. Perkuat Likuiditas Perbankan untuk Disalurkan ke Sektor Riil

    Salah satu pilar kebijakan utama dalam menggenjot likuiditas perbankan adalah penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara pada awal September lalu. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat fondasi likuiditas sektor perbankan, memungkinkan bank-bank di Indonesia mengatasi potensi kendala likuiditas di pasar.

    Pemerintah baru-baru ini memperkuat alokasi dana tersebut dengan tambahan sebesar Rp76 triliun, yang disalurkan ke tiga bank Himbara dan satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

    Langkah strategis ini diharapkan dapat memacu sektor perbankan agar lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke sektor riil, yang pada gilirannya esensial untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Dengan injeksi likuiditas tambahan ini, sektor perbankan diharapkan dapat memperluas pembiayaan bagi usaha-usaha produktif, mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, serta memicu investasi yang diperlukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

    “Kami juga terus menjaga keseimbangan antara kebijakan di sisi pasokan (supply) dan permintaan (demand). Misalnya, dari sisi pasokan, kami menambah likuiditas dengan cara yang telah dilakukan dari Rp200 triliun sebelumnya, kemudian menambah Rp76 triliun,” terang Andriansyah.

    2. APBN Menjadi Katalis Pendorong Ekonomi

    Andriansyah lebih lanjut menguraikan pentingnya instrumen kebijakan fiskal dan moneter dalam menyokong pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memegang peran krusial sebagai katalis yang mendorong dinamika perekonomian.

    “Kita juga melihat bahwa fungsi APBN sebagai instrumen belanja negara sangat penting. Tidak semua belanja negara akan terhitung langsung dalam PDB, baik dalam bentuk konsumsi maupun investasi. Namun, yang tak kalah penting, APBN bisa berfungsi sebagai katalis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

    3. Tekankan Pentingnya Peran Swasta di Perekonomian dan Atasi Hambatan Investasi

    Di samping itu, pemerintah juga menyadari sepenuhnya signifikansi peranan sektor swasta dalam memajukan ekonomi. Oleh karena itu, sektor swasta menjadi fokus utama dalam setiap kebijakan ekonomi yang dirumuskan, dengan tujuan utama untuk memperkuat struktur perekonomian domestik. Salah satu upaya konkret adalah melalui deregulasi berkelanjutan untuk menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih kondusif di Indonesia.

    “Yang tidak kalah penting, kami juga terus melakukan deregulasi. Saat ini, kami memiliki Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah yang terdiri dari tiga Pokja. Pertama, Pokja percepatan anggaran, kedua, Pokja untuk mengatasi bottlenecking, dan ketiga, Pokja yang fokus pada regulasi dan penegakan hukum. Khususnya untuk Pokja kedua, yang menangani bottlenecking, kami berusaha untuk menyelesaikan hambatan dari sisi pasokan,” jelas Andriansyah.

    Lebih jauh, Kementerian Keuangan secara proaktif berupaya mengelola anggaran negara secara lebih efektif dan efisien. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap alokasi dan pengeluaran anggaran memberikan dampak maksimal bagi kemajuan perekonomian. Salah satu strategi utama yang diimplementasikan adalah melalui program-program strategis pemerintah, seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan dampak dari setiap dana yang dialokasikan.

  • FORE 2026: Analis Ungkap Peluang Investasi dan Prospek Cerah

    FORE 2026: Analis Ungkap Peluang Investasi dan Prospek Cerah

    KalselBabusalam.com — Prospek cerah menyelimuti emiten F&B, Fore Coffee (FORE), yang diproyeksikan masih memiliki ruang pertumbuhan signifikan hingga tahun 2026. Optimisme ini didasari oleh kinerja impresif perseroan yang berhasil membukukan kenaikan pendapatan dan laba lebih dari 40% per kuartal III-2025.

    Momentum positif ini, menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, diperkirakan akan terus berlanjut. Wafi menyoroti efisiensi kinerja gerai sebagai salah satu pendorong utama. “FORE masih punya momentum growth karena basis 2024 dan 2025 relatif kecil dan store economics mulai solid. AOV naik, traffic stabil, dan unit economics makin efisien,” ujar Wafi, dilansir dari Kontan, Jumat (5/12/2025). Meskipun efek basis yang lebih tinggi akan sedikit melandai, ia memproyeksikan pertumbuhan FORE tahun depan tetap berada di level dua digit.

    Untuk menjaga laju pertumbuhan, Wafi melihat strategi ekspansi FORE ke kota-kota lapis dua dan tiga, serta perluasan lini produk Fore Donut, sebagai motor penggerak kinerja berikutnya. Ekspansi di wilayah tersebut dinilai menguntungkan dari sisi biaya sewa dan capex yang lebih rendah, seiring dengan terbentuknya permintaan akan kopi modern di daerah. “Ekspansi ini bisa menambah volume tanpa menekan margin terlalu dalam. Fore Donut juga berpotensi mendorong AOV (Average Order Value) lewat cross-selling,” jelasnya, menyoroti potensi sinergi antara produk kopi dan donat dalam meningkatkan nilai transaksi pelanggan.

    Meski demikian, tantangan seperti tekanan harga kopi global dan daya beli masyarakat tetap perlu dicermati. Dari sisi valuasi, Wafi menilai saham FORE saat ini cenderung premium dibandingkan emiten sejenis. Namun, ia menambahkan, investasi pada FORE tetap menarik apabila perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 20% pada tahun 2026 dan menjaga stabilitas margin. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya Cost of Goods Sold (COGS), konsumsi yang berpotensi lemah, serta persaingan di industri F&B yang semakin ketat. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, KISI Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham FORE dengan target harga Rp600 per saham.

    Optimisme terhadap saham FORE juga datang dari perspektif teknikal. William Hartanto, praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, mencermati pergerakan saham FORE yang cenderung sideways sejak September dan berhasil membentuk support kuat di level Rp500. “Level ini menjadi area beli menarik dengan target pada Rp650 sampai Rp700 per saham,” ungkap William, memberikan panduan bagi para investor yang tertarik pada pergerakan teknikal saham ini.

  • Rupiah Menguat Tipis Hari Ini: Rp 16.648 per Dolar AS

    Rupiah Menguat Tipis Hari Ini: Rp 16.648 per Dolar AS

    KalselBabusalam.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil membalikkan keadaan dengan positif pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (5/12/2025). Rupiah ditutup menguat di level Rp 16.648 per dolar Amerika Serikat (AS), memberikan sinyal optimisme di tengah dinamika pasar global.

    Penguatan tipis sebesar 0,03% ini menandai pembalikan arah dari penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.653 per dolar AS. Pergerakan positif rupiah ini juga selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang turut menunjukkan performa yang mengesankan.

    Hingga pukul 15.00 WIB, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan paling signifikan di Asia, melonjak sebesar 0,47%. Disusul oleh yen Jepang yang tidak kalah perkasa, terkerek naik 0,31% terhadap the greenback.

    Penerbitan SBN Ritel Tahun 2026 Diproyeksi Meningkat

    Tren positif juga meliputi dolar Taiwan yang berhasil ditutup terangkat 0,22%, serta won Korea Selatan yang menanjak 0,21%. Selanjutnya, ringgit Malaysia ikut mencatatkan apresiasi sebesar 0,15%.

    Kinerja mata uang lainnya yang menguat termasuk peso Filipina yang terapresiasi 0,14%, dolar Singapura yang terangkat 0,08%, dan yuan China yang menguat tipis 0,04% pada perdagangan hari ini.

    Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib serupa. Rupee India kembali menunjukkan pelemahan, menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di Asia setelah tergelincir 0,06%. Senada dengan itu, dolar Hong Kong juga harus pasrah melemah tipis 0,02% terhadap dolar AS, menandakan adanya tekanan di pasar.

  • Net Buy Asing Rp 1,7 Triliun: Saham Apa Saja yang Diborong?

    Net Buy Asing Rp 1,7 Triliun: Saham Apa Saja yang Diborong?

    KalselBabusalam.comKONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan kinerja positif dengan menutup perdagangan hari Kamis (4/12/2025) di zona hijau. Keberhasilan ini menjadi sinyal optimisme bagi pasar modal domestik.

    Dilansir dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 0,33% atau setara dengan 28,40 poin, mencapai level 8.640,19 pada penutupan sesi perdagangan. Sepanjang hari Kamis tersebut, pergerakan IHSG konsisten berada di wilayah positif, dengan rentang perdagangan yang tercatat antara 8.606 hingga 8.650.

    Aktivitas perdagangan di BEI terpantau cukup ramai, dengan total volume saham yang diperdagangkan mencapai 51,36 miliar saham. Nilai transaksi yang berhasil dibukukan juga signifikan, yakni sebesar Rp 21,19 triliun. Kondisi pasar menunjukkan dominasi saham-saham yang menguat, dengan 358 saham bergerak naik, sementara 302 saham mengalami pelemahan, dan 140 saham lainnya stagnan.

    Peran investor asing dalam mendukung kinerja IHSG pada hari tersebut sangat terasa. Mereka terpantau melakukan aksi beli bersih atau net buy secara masif di seluruh pasar, dengan nilai mencapai Rp 1,7 triliun.

    Asing Net Buy Rp 3,86 Triliun, Cek Saham yang Banyak Diborong Sepekan Terakhir

    Asing Net Buy Rp 6,12 Triliun, Cermati Saham yang Banyak Diborong Sepekan Terakhir

    Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak diburu oleh investor asing (net buy terbesar) pada perdagangan Kamis (4/12):

    1. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 149,19 miliar
    2. PT Astra International Tbk (ASII) Rp 126,42 miliar
    3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 110,09 miliar
    4. PT Timah Tbk (TINS) Rp 92,86 miliar
    5. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) Rp 80,0 miliar
    6. PT BanguN Kosambi Sukses Makmur Tbk (CBDK) Rp 78,05 miliar
    7. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp 49,46 miliar
    8. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) Rp 36,17 miliar
    9. PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) Rp 35,04 miliar
    10. PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 25,52 miliar

  • JSMR: Peluang Saham Jasa Marga Jelang Nataru, Bebas Hambatan?

    JSMR: Peluang Saham Jasa Marga Jelang Nataru, Bebas Hambatan?

    KalselBabusalam.com, JAKARTA – Saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), emiten operator jalan tol milik negara, dinilai menyimpan daya tarik kuat untuk dikoleksi dalam jangka menengah. Meskipun demikian, kebijakan pemberian diskon tarif tol sebesar 20% selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) diperkirakan hanya akan memberikan tekanan yang terbatas pada kinerja keuangan JSMR di penghujung tahun ini.

    Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, telah mengonfirmasi bahwa diskon tarif tol 20% akan diberlakukan di 26 ruas tol utama yang menjadi bagian dari jaringan Trans Jawa dan Trans Sumatra. Penawaran istimewa ini berlaku pada tanggal 22–23 Desember serta 31 Desember. Dengan besaran diskon 20%, yang berarti dua kali lipat dari diskon tahun sebelumnya, fokus pasar kini secara otomatis beralih pada potensi dampaknya terhadap pendapatan dan valuasi saham JSMR.

    Prospek Jasa Marga Menjelang Akhir Tahun

    Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, melihat prospek JSMR menjelang kuartal IV/2025 cukup positif. Pandangan ini didukung oleh momentum libur akhir tahun yang kuat dan stimulus perjalanan dari pemerintah, yang diyakini akan meningkatkan mobilitas masyarakat secara signifikan di seluruh ruas tol yang dikelola.

    Namun, dampak positif tersebut diperkirakan tidak akan terlalu signifikan. Alasannya adalah kemampuan belanja masyarakat yang masih terbatas serta pendapatan riil yang belum sepenuhnya pulih. Ini menyiratkan bahwa kenaikan trafik tol cenderung bersifat musiman daripada struktural, sehingga tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang mendalam dan berkelanjutan.

    “Secara keseluruhan, JSMR berpeluang mencatat pemulihan moderat di akhir 2025, terutama didorong oleh lonjakan trafik musiman, efisiensi biaya, serta potensi monetisasi aset tol baru,” pungkas Liza, dilansir dari Bisnis. Dia menambahkan bahwa saham JSMR sangat menarik untuk diakumulasi dalam jangka menengah, terutama karena valuasi sahamnya kini relatif murah. Meskipun demikian, beban bunga yang tinggi tetap menjadi tantangan serius yang harus dihadapi dalam jangka pendek.

    Sejalan dengan pandangan tersebut, Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, juga menyoroti prospek positif bagi JSMR. Musim libur akhir tahun berpotensi besar mendorong kenaikan volume lalu lintas di berbagai ruas tol utama, yang secara langsung akan menguntungkan perseroan.

    Saham emiten pelat merah ini juga dinilai menarik untuk dikoleksi. Valuasinya telah terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun berjalan, sementara fundamental bisnis tol perseroan tetap dinilai defensif dan kuat. “Ditambah, adanya potensi realisasi penyesuaian tarif di beberapa ruas baru juga bisa memperbaiki margin. Namun, tekanan biaya keuangan dan proyek ekspansi yang masih tinggi menjadi tantangan,” pungkasnya.

    JP Morgan Naikkan Rekomendasi Saham Jasa Marga

    Kabar baik datang dari perbankan investasi asal Amerika Serikat, JP Morgan, yang telah meningkatkan rekomendasi saham JSMR dari sebelumnya “netral” menjadi “overweight”. Peningkatan rekomendasi ini menunjukkan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap potensi pertumbuhan Jasa Marga di masa depan.

    JP Morgan mengidentifikasi sederet katalis kuat yang mendukung rekomendasinya. Katalis-katalis tersebut mencakup valuasi JSMR yang sudah terdiskon signifikan, perubahan tata kelola BUMN pasca-pengelolaan Danantara, serta siklus penurunan suku bunga yang diperkirakan akan terjadi.

    Dalam laporan risetnya, valuasi JSMR dinilai sangat rendah, mencerminkan respons pasar yang berlebihan akibat kekhawatiran terkait potensi penugasan transfer aset jalan tol dari Waskita Karya di bawah Danantara. Hingga 17 November 2023, valuasi JSMR diperdagangkan dengan rasio price-to-earnings (P/E) pada kisaran tujuh kali, menjadikannya salah satu yang terendah sepanjang sejarah perusahaan.

    “Saham ini diperdagangkan pada P/E terendah sepanjang sejarah, yaitu tujuh kali, dan menurut pandangan kami, menyajikan risiko/imbalan yang menarik,” ucap Arnanto Januri dkk., para analis JP Morgan dalam publikasi riset mereka.

    Faktor kedua yang menjadi pendorong adalah dampak dari perubahan tata kelola BUMN di bawah naungan Danantara. JP Morgan menilai bahwa peningkatan fokus pada return on equity (ROE) telah menghasilkan re-rating yang signifikan pada sejumlah saham BUMN, termasuk potensi untuk JSMR.

    Sementara itu, katalis ketiga yang menguntungkan Jasa Marga adalah tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. JP Morgan memproyeksikan bahwa bank sentral akan kembali memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember 2025. Penurunan suku bunga ini tentu akan meringankan beban keuangan perusahaan dengan utang besar seperti Jasa Marga, sehingga berpotensi meningkatkan profitabilitas.

    Pada perdagangan Kamis (4/12), saham JSMR ditutup melemah 1,45% ke level Rp3.410 per saham. Sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), saham emiten operator jalan tol BUMN ini juga telah terkoreksi sebesar 21,25%, memberikan peluang bagi investor yang mencari valuasi menarik di pasar.

    Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.