Kategori: Finance

  • Gajah Tunggal (GJTL) bakal bagi dividen tunai Rp 80 per saham, cek jadwalnya

    Gajah Tunggal (GJTL) bakal bagi dividen tunai Rp 80 per saham, cek jadwalnya

    kalselbabusalam.com  JAKARTA. Emiten produsen ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) berencana membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 278.784.000.000 atau sebesar Rp 80 per saham bagi 3.484.800.000 saham yang telah dikeluarkan oleh perusahaan.

    Rencana pembagian dividen tunai ini telah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 22 Mei 2026.

    “Pembayaran dividen akan dilakukan pada 18 Juni 2026 kepada para pemegang saham perusahaan yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada 8 Juni 2026 dan/atau pemegang saham Perseroan pada sub rekening efek di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada penutupan perdagangan saham pada 8 Juni 2026,” ungkap Manajemen GJTL dalam keterbukaan informasi, Selasa (26/5/2026).

    Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bersiap Bagi Dividen Tunai US$ 200 Juta

    Berikut ini adalah jadwal pembagian dividen tunai GJTL:

    • Cum dividen tunai di pasar reguler dan negosiasi : 4 Juni 2026
    • Ex dividen tunai di pasar reguler dan negosiasi : 5 Juni 2026
    • Cum dividen tunai di pasar tunai : 8 Juni 2026
    • Ex dividen tunai di pasar tunai : 9 Juni 2026
    • Recording date : 8 Juni 2026
    • Pembayaran dividen tunai : 18 Juni 2026
  • Peningkatan efisiensi operasional, begini prospek kinerja Telkom (TLKM)

    Peningkatan efisiensi operasional, begini prospek kinerja Telkom (TLKM)

    kalselbabusalam.com – JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat penurunan kinerja pada tahun 2025. Peningkatan efisiensi operasional hingga rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja TLKM ke depan. 

    TLKM mencatatkan pendapatan kuartal IV – 2025 sebesar Rp 37,1 triliun dan menutup tahun fiskal 2025 pada Rp 146,7 triliun, turun 2,2% secara year on year (YoY), karena kelemahan di sebagian besar segmen, yakni segmen layanan suara, interkoneksi, dan jaringan. kelemahan dari segmen bisnis tersebut sebagian diimbangi oleh pemulihan di segmen data & internet. 

    Pada tingkat operasional, pengeluaran operasional meningkat 10,1% YoY dan naik 15,8% pada kuartal IV – 2025 menjadi Rp 31,7 triliun, didorong oleh lonjakan depresiasi dan amortisasi karena percepatan depresiasi aset dan biaya personel yang lebih tinggi dari Program Pensiun Dini.

    Secara tahunan, laba bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp 17,8 triliun, turun 20,5% YoY, dengan net profit margin (NPM) sebesar 12,1%, dibandingkan 14,9% pada tahun 2024. 

    Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bersiap Bagi Dividen Tunai US$ 200 Juta

    Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1% – 3% pada tahun 2026, yang menyiratkan pemulihan bertahap dari pendapatan yang menurun 2,2% pada tahun 2025. 

    “Kami memperkirakan tahun 2026 akan menandai awal normalisasi pendapatan, didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat,” ujar Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 20 Mei 2026. 

    Sementara itu, John Te, Analis UBS Sekuritas Indonesia mencatat tahap 2 dari pemisahan aset serat opti ditunda satu kuartal karena masalah perizinan dan diperkirakan akan selesai pada kuartal III – 2026.

    Telkom juga sedang menjajaki konsolidasi aset serat optik yang dimiliki oleh BUMN lain ke dalam penawaran Infranexia-nya. Meskipun terjadi penurunan laba, Telkom berencana untuk menyamai atau melampaui jumlah dividen absolut untuk laba tahun 2025. 

    Selain itu, mengenai lelang spektrum 700MHz dan 2.6GHz, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Bob Setiadi mengatakan bahwa TLKM sedang meninjau persyaratan penawaran dan bertujuan untuk mengamankan spektrum sebanyak mungkin.

    Manajemen mencatat bahwa hanya dua operator telekomunikasi lain yang mengajukan penawaran untuk kedua pita frekuensi tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa persyaratan pembayaran menjadi lebih menguntungkan, di mana pemerintah sekarang mensyaratkan dua kali lipat biaya spektrum tahunan pada tahun pertama (dibandingkan tiga kali lipat sebelumnya). 

    “Terakhir, mereka mengatakan bahwa peluncuran 5G akan dilakukan secara hati-hati, berdasarkan kesiapan pasar dan penetrasi headset 5G,” ujar Bob dalam risetnya pada 12 Mei 2026. 

    Gajah Tunggal (GJTL) Bakal Bagi Dividen Tunai Rp 80 per Saham, Cek Jadwalnya

    Gani, Analis OCBC Sekuritas memperkirakan, semua segmen bisnis TLKM akan mencatatkan pertumbuhan pada tahun ini.

    Namun tantangan yang perlu diperhatikan adalah kondisi makroekonomi yang kurang mendukung. Daya beli, persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi, dan perkembangan eksekusi unlocking asset juga perlu dicermati untuk melihat kinerja TLKM ke depan. 

    “Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 kemungkinan akan meningkat didorong perbaikan ARPU di bisnis selular dan pertumbuhan di lini bisnis lain,” ucap Gani kepada Kontan, Selasa (26/5/2026). 

    Sementara, John melihat risiko penurunan TLKM meliputi persaingan harga yang intensif, yang dapat mengakibatkan pemotongan harga atau peningkatan kembali belanja modal. Kondisi makroekonomi yang lemah dan pelemahan rupiah; tantangan pelaksanaan, khususnya dalam bisnis fixed line (telepon tetap); perubahan regulasi yang merugikan; dan perubahan teknologi yang mendorong solusi alternatif juga menjadi risiko yang perlu dicermati. 

    Di sisi lain, Leonardo mengatakan, valuasi TLKM saat ini menarik, didukung oleh tekanan penjualan asing yang relatif terbatas yang tercermin dalam pergerakan harga sahamnya baru-baru ini. Serta karakteristik defensifnya yang memposisikan saham tersebut sebagai aset lindung nilai portofolio di tengah volatilitas yang tinggi di pasar ekuitas Indonesia. 

    Di luar profil bisnisnya yang tangguh dan stabil, inisiatif strategis TLKM termasuk perampingan operasional, pelepasan nilai dari aset fiber melalui Infranexia, dan perluasan bisnis pusat datanya dapat memberikan katalis positif jangka menengah saat perusahaan bertransisi ke fase bisnis yang lebih matang.

    Bumi Resources (BUMI) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,84 Triliun

    Dalam jangka pendek, Leonardo bilang, katalis positif untuk TLKM, termasuk keberhasilan pelaksanaan inisiatif efisiensi operasional, bersamaan dengan potensi peningkatan ARPU dan hasil sejalan dengan lingkungan industri yang pulih. 

    “Risiko penurunan utama meliputi daya beli konsumen yang lebih lemah yang dapat mengurangi permintaan untuk layanan data, persaingan yang semakin ketat di antara operator telekomunikasi, khususnya dalam hal penetapan harga, serta potensi penundaan dalam proses transformasi bisnis TLKM,” ucap Leonardo. 

      TLKM Chart by TradingView  

    Leonardo memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih TLKM tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 151,04 triliun dan Rp 23,78 triliun. Adapun pada tahun 2025, TLKM mengantongi pendapatan Rp 146,7 triliun dan laba bersih Rp 17,8 triliun. 

    Leonardo, John, dan Gani merekomendasikan buy saham TLKM dengan target harga masing – masing Rp 3.700 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 4.200 per saham.

  • Bumi Resources (BUMI) terbitkan obligasi senilai Rp 1,84 triliun

    Bumi Resources (BUMI) terbitkan obligasi senilai Rp 1,84 triliun

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terbitkan obligasi senilai Rp 1,84 triliun. Obligasi tersebut akan mulai dicatatkan pada akhir pekan ini di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    Berdasarkan keterbukaan informasi di laman resmi BEI yang dikutip Kontan, Rabu (27/5/2026), obligasi tersebut merupakan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 yang akan mulai diperdagangkan pada 29 Mei 2026.

    Emisi obligasi ini terbagi menjadi tiga seri dengan tingkat bunga yang bervariasi. Pertama, Seri A memiliki nilai Rp600,04 miliar dengan kupon 7,50% dan jatuh tempo pada 6 Juni 2027.

    Kedua, Seri B diterbitkan senilai Rp905,97 miliar dengan bunga 8,75% dan tenor hingga 26 Mei 2029.

    Gajah Tunggal (GJTL) Bakal Bagi Dividen Tunai Rp 80 per Saham, Cek Jadwalnya

    Ketiga, Seri C memiliki nilai Rp333,86 miliar dengan kupon tertinggi sebesar 9,05% dan jatuh tempo pada 26 Mei 2031.

    Dalam keterbukaan tersebut, disampaikan bahwa seluruh obligasi diterbitkan pada 26 Mei 2026 dan akan resmi tercatat di bursa mulai 29 Mei 2026.

    Penerbitan obligasi ini menggunakan jasa wali amanat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), serta telah memperoleh peringkat idA+ dari PEFINDO.

    Disebutkan juga bahwa obligasi ini tidak dilengkapi dengan jaminan khusus.

    Selain itu, ketentuan pembelian kembali atau buyback dapat dilakukan setelah satu tahun sejak tanggal penjatahan.

  • Daftar harga emas Antam hari ini (27/5): Turun Rp 13.000 jadi Rp 2.785.000 per gram

    Daftar harga emas Antam hari ini (27/5): Turun Rp 13.000 jadi Rp 2.785.000 per gram

    kalselbabusalam.com  JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Rabu (27/5/2026).

    Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.785.000. Harga emas Antam itu turun Rp 13.000 jika dibandingkan dengan harga pada Selasa (26/5/2026) yang berada di level Rp 2.798.000 per gram.

    Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.594.000 per gram. Harga tersebut juga turun Rp 13.000 jika dibandingkan dengan harga buyback pada Selasa (26/5/2026) yang ada di Rp 2.607.000 per gram.

    Bursa Asia Menguat di Pagi Ini (27/5), Indeks Nikkei dan Kospi Cetak Rekor Tertinggi

    Berikut harga emas batangan Antam dalam pecahan lainnya per Rabu (27/5/2026) dan belum termasuk pajak:

    • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.442.500
    • Harga emas 1 gram: Rp 2.785.000
    • Harga emas 5 gram: Rp 13.740.000
    • Harga emas 10 gram: Rp 27.400.000
    • Harga emas 25 gram: Rp 68.335.000
    • Harga emas 50 gram: Rp 136.505.000
    • Harga emas 100 gram: Rp 272.860.000
    • Harga emas 250 gram: Rp 681.840.000
    • Harga emas 500 gram: Rp 1.363.400.000
    • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.725.600.000

    Keterangan:

    Logam Mulia Antam menjual emas dan perak batangan dalam beberapa ukuran berat (misalnya 1 gram, 2 gram, dan 500 gram). Biasanya harga per gram emas Antam akan berbeda tergantung berat batangnya. Perbedaan ini terjadi karena ada biaya tambahan untuk pencetakan, sehingga harga per gram emas Antam batang kecil lebih mahal dari batang yang lebih besar. Harga yang ada di sini adalah harga per gram emas batang 1 kilogram yang biasa dijadikan patokan pelaku bisnis emas

  • Membaca arah IHSG semester II/2026 usai rebalancing FTSE dan MSCI

    Membaca arah IHSG semester II/2026 usai rebalancing FTSE dan MSCI

    kalselbabusalam.com , JAKARTA – Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada semester II/2026 diperkirakan masih dibayangi volatilitas jangka pendek seiring proses rebalancing sejumlah indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell yang memicu tekanan dana asing keluar dari pasar saham Indonesia.

    Teranyar, FTSE Russell melakukan aksi bersih-bersih terhadap sejumlah saham Indonesia dalam tinjauan kuartalan periode Juni 2026. Dalam laporan terbarunya, terdapat empat saham yang dikeluarkan dari indeks tersebut.

    Keempat saham itu antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ), PT Hillcon Tbk. (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA). Saham-saham tersebut dikeluarkan lantaran persoalan konsentrasi kepemilikan hingga tidak memenuhi kriteria free float atau surveillance stocks screen.

    : IHSG Ditutup Turun 1,23% ke 6.130, Saham INCO, ASII hingga AMRT Kompak Lesu

    Ajaib Sekuritas dalam laman resminya menjelaskan bahwa keluarnya sejumlah saham dari indeks FTSE Russell membuat bobot Indonesia mengalami penurunan dan berpotensi memicu net sell dari passive fund global.

    Berdasarkan data Ajaib, kapitalisasi pasar bersih free float dari 39 saham Indonesia dalam kategori large dan mid cap di indeks emerging markets FTSE Russell sebelumnya mencapai 0,88% dari total indeks.

    : : Cek Saham Jagoan Analis Pekan Ini saat IHSG Risiko Koreksi Lanjutan

    Namun, setelah keluarnya DSSA dari indeks, bobot Indonesia turun menjadi 0,86% dari total indeks emerging markets FTSE Russell.

    ”Penurunan tersebut berisiko memicu outflow dari investor institusi global yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan investasi atau benchmark,” tulis Ajaib dalam laman resminya, dikutip Selasa (26/5/2026).

    : : Saham RI Didepak FTSE, BEI: Risiko Jangka Pendek Reformasi Pasar Modal

    Ajaib memperkirakan potensi outflow dari Vanguard FTSE Emerging Market ETF mencapai US$27,72 juta atau sekitar Rp487,8 miliar. Bahkan, total potensi outflow passive fund diprediksi menembus US$297 juta atau sekitar Rp5,2 triliun.

    “Tekanan jual diperkirakan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing pada 22 Juni 2026,” kata Ajaib.

    Di sisi lain, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai volatilitas pasar saham domestik masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga proses penyesuaian portofolio dana pasif global rampung.

    ”Kalau terkait price-in, bisa jadi belum sepenuhnya selesai karena para pelaku pasar harus melewati fase krusial hingga efektivitas rebalancing MSCI pada 29 Mei, kalau FTSE efektifnya pada 22 Juni,” kata Nafan saat dihubungi, dikutip Selasa (26/5/2026).

    Meski demikian, Nafan menilai peluang rebound IHSG pada semester II/2026 tetap terbuka lebar setelah fase rebalancing berakhir. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.

    Pertama, meredanya tensi geopolitik global, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, dinilai dapat memperbaiki sentimen investor terhadap aset berisiko termasuk pasar saham emerging markets seperti Indonesia.

    Selain itu, kepastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga dipandang menjadi faktor penting. Terlebih, valuasi saham-saham domestik saat ini dinilai sudah berada pada level yang cukup murah.

    Kedua, reformasi pasar modal Indonesia dinilai mulai mendapatkan respons positif dari lembaga penyedia indeks global. Hal tersebut tercermin dari mulai diterapkannya metode HSC BEI untuk menyaring saham-saham dengan kualitas free float dan likuiditas yang dinilai kurang memadai.

    ”Nanti persepsi investor global dalam jangka panjang tentu akan baik karena pasar kita akan menjadi jauh lebih kredibel, tidak mudah dimanipulasi, dan terhindar dari harga saham yang ekstrem akibat likuiditas semu,” tambahnya.

    _____

    Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

  • Wall Street: S&P 500, Nasdaq capai rekor tertinggi baru didorong optimisme AI

    Wall Street: S&P 500, Nasdaq capai rekor tertinggi baru didorong optimisme AI

    kalselbabusalam.com  NEW YORK. Wall Street ditutup bervariasi dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor penutupan tertinggi baru, karena optimisme yang didorong oleh AI mengimbangi kecemasan atas perundingan perdamaian Timur Tengah, kekhawatiran diperparah oleh serangan AS baru-baru ini terhadap Iran. 

    Selasa (26/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 118,02 poin atau 0,23% menjadi 50.461,68, indeks S&P 500 naik 45,65 poin atau 0,61% ke 7.519,12 dan indeks Nasdaq Composite menguat 312,21 poin atau 1,19% ke 26.656,18.

    Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Russell 2000 mencapai rekor tertinggi intraday pada hari Selasa, menggarisbawahi kekuatan reli baru-baru ini.

    Saham semikonduktor, yang telah melonjak karena permintaan yang didorong oleh AI, memimpin kenaikan pada sesi ini, dengan Micron naik 19%, mencapai nilai pasar US$ 1 triliun untuk pertama kalinya, setelah UBS menaikkan target harga saham tersebut menjadi US$ 1.625 dari US$ 535.

    Primaya Hospital (PRAY) Catat Pendapatan Tumbuh 25% Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya

    Pendapatan yang optimistis dan kepercayaan yang diperbarui dalam perdagangan AI telah mendorong pasar saham AS lebih tinggi meskipun konflik yang sedang berlangsung dengan Iran, dengan investor sekarang mengalihkan perhatian mereka ke IPO beberapa perusahaan AI swasta terbesar, termasuk SpaceX.

    “Bagi kami yang sudah bekerja selama itu, reli teknologi yang kita lihat tahun ini mengingatkan kita pada booming di akhir tahun 1990-an,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi Northlight Asset Management.

    “Ada juga kemungkinan bahwa beberapa pelajaran yang dipetik setelah gelembung teknologi meledak lebih dari 25 tahun yang lalu akan mencegah hal yang sama terjadi lagi.” 

    Pasar juga merasa lega dengan komentar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang mengatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk menghentikan konflik dapat “membutuhkan beberapa hari,” sementara kantor berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Teheran berupaya untuk melepaskan dana Iran senilai US$ 24 miliar yang dibekukan di luar negeri.

    “Meskipun perang belum berakhir, kemungkinan besar situasi akan terselesaikan secara damai secepatnya,” kata Adam Sarhan, kepala eksekutif 50 Park Investments.

    “Namun kenyataannya, pendapatan diperkirakan akan tumbuh meskipun inflasi tinggi. Ekonomi masih tumbuh, dan pasar sebagian besar mencerminkan ekonomi.”

    Harga minyak mentah Brent naik sekitar 4% pada hari Selasa setelah militer AS melakukan serangan di Iran, menambah ketidakpastian tentang apakah kesepakatan akan segera tercapai untuk mengakhiri perang dan membuka arus pengiriman melalui Selat Hormuz. 

    Wall Street Menguat Ditopang Optimisme AI Selasa (26/5), Konflik Timur Tengah Memanas

    Di sesi kali ini, saham Qualcomm naik hampir 4,5% setelah Bloomberg News melaporkan bahwa mereka mencapai kesepakatan dengan pemilik TikTok, ByteDance, untuk memasok chip. 

    Sementara saham Marvell Technology berakhir menguat 6%. Indeks Semikonduktor SE Philadelphia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, naik 5,5%.

    Dengan berakhirnya musim laporan keuangan, pertumbuhan pendapatan kuartal pertama diperkirakan mencapai 29% secara tahunan dibandingkan dengan perkiraan 16,1% sebulan yang lalu, menurut data LSEG dari hari Jumat.

    Indeks S&P 500 mencatat 42 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu rekor terendah baru. Sedangkan indeks Nasdaq Composite mencatat 185 rekor tertinggi baru dan 70 rekor terendah baru.

  • Yield SBN naik, pasar obligasi korporasi diperkirakan mulai tertekan

    Yield SBN naik, pasar obligasi korporasi diperkirakan mulai tertekan

    kalselbabusalam.com – JAKARTA. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan mulai memberikan dampak lebih nyata terhadap pasar obligasi korporasi pada semester II-2026.

    Analis menyebutkan, respons obligasi korporasi terhadap perubahan suku bunga memang cenderung tertinggal dibandingkan obligasi pemerintah.

    Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Strategi Kelas Menengah Bertahan

    Fixed Income Analyst PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Doni Kuswantoro menjelaskan bahwa secara umum harga obligasi korporasi bersifat lagging dibandingkan SBN.

    Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor struktural, mulai dari frekuensi transaksi yang lebih rendah, proses penerbitan yang tidak sefleksibel perdagangan SBN di pasar sekunder, hingga karakter investor yang cenderung menerapkan strategi buy and hold.

    “Sehingga penyesuaian yield tidak langsung terefleksi,” ujar Doni kepada Kontan, Senin (25/5).

    Ia menjelaskan, kenaikan yield SBN sepanjang tahun ini membuat yield obligasi korporasi juga berpotensi mengalami penyesuaian.

    Yield SBN tenor 10 tahun tercatat kembali naik ke kisaran 6,7% pada Selasa (26/5), dari posisi awal tahun yang masih berada di kisaran 6%.

    Dengan kondisi tersebut, Doni menilai wajar apabila yield obligasi korporasi turut mengikuti tren kenaikan yield SBN.

    Hashim Sebut Internet Rakyat Berpotensi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI

    Menurutnya, besaran perubahan yield obligasi korporasi akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing emiten dan kualitas kreditnya. Namun secara umum, arah pergerakannya diperkirakan tetap sejalan dengan yield SBN.

    Lebih lanjut, kenaikan biaya pendanaan dari penerbitan obligasi diperkirakan mulai memengaruhi keputusan emiten untuk menerbitkan surat utang baru.

    Meski demikian, berdasarkan data Pefindo, penerbitan obligasi korporasi hingga akhir April 2026 masih tumbuh 20,56% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 67,05 triliun.

    Doni menilai pertumbuhan tersebut mencerminkan minat penerbitan yang masih cukup kuat, didukung kondisi yield pada Januari–April 2026 yang relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Tercatat, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun kategori AAA berada di level sekitar 5,8% pada kuartal I-2026.

    Menang Tender Danantara, BIPI Gandeng Bakrie dan Tommy Soeharto Garap Energi Hijau

    Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang berada di kisaran 5,7%–5,8%, namun masih lebih rendah dibandingkan kuartal I-2025 yang sempat berada di kisaran 7%.

    Namun, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,25% serta penguatan yield SBN belakangan ini dinilai berpotensi membuat sebagian emiten mengambil sikap wait and see sambil menunggu kondisi pasar yang lebih kondusif.

    Meski begitu, kebutuhan pendanaan ulang (refinancing) diperkirakan tetap menjadi penopang pasar obligasi korporasi.

    Data Pefindo menunjukkan obligasi korporasi yang jatuh tempo pada Mei hingga Desember 2026 mencapai Rp 124 triliun.

    “Jadi minat penerbitan obligasi korporasi akan bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing emiten serta kemampuan diversifikasi pendanaan,” ujar Doni.

    Secara terpisah, Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 masih berpotensi tumbuh.

    RUPST Citra Tubindo (CTBN) Sepakati Pembagian Dividen Hampir 100% dari Laba 2025

    Namun, volumenya diperkirakan tidak akan seramai tahun sebelumnya karena emiten mulai memperhitungkan kenaikan biaya pendanaan.

    Menurut Suhindarto, dampak kenaikan BI Rate memang belum sepenuhnya tercermin di pasar obligasi korporasi karena transmisi suku bunga biasanya terjadi dengan jeda waktu.

    “Jika kenaikan suku bunga tersebut mendorong yield dan pembentukan kupon meningkat signifikan, penerbitan surat utang korporasi bisa tidak seramai perkiraan,” ujar Suhindarto, Kamis (21/5).

  • Wall Street menguat ditopang optimisme AI Selasa (26/5), konflik Timur Tengah memanas

    Wall Street menguat ditopang optimisme AI Selasa (26/5), konflik Timur Tengah memanas

    kalselbabusalam.com  Wall Street menguat mendekati rekor tertinggi pada perdagangan Selasa (26/5/2026), didorong optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) yang mampu menutupi kekhawatiran pasar atas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

    Mengutip Reuters, indeks utama Wall Street bergerak di zona hijau meskipun pasar masih mencermati perkembangan negosiasi damai pasca serangan militer AS ke Iran.

    Yield SBN Naik, Pasar Obligasi Korporasi Diperkirakan Mulai Tertekan

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, kesepakatan dengan Teheran kemungkinan baru dapat dicapai dalam beberapa hari ke depan.

    Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan Teheran tengah mengupayakan pencairan dana Iran sebesar US$ 24 miliar yang dibekukan di luar negeri.

    Chief Market Strategist B Riley Wealth Art Hogan menjelaskan, pasar saat ini berada dalam fase optimisme yang tetap berhati-hati.

    “Ada fokus untuk mencari jalan keluar dari perang ini, tetapi pasar juga memahami bahwa harga energi dan inflasi membutuhkan waktu untuk kembali normal,” ujarnya.

    Harga minyak Brent sempat naik hingga 2,7%, namun masih bertahan di bawah level US$ 100 per barel.

    Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Strategi Kelas Menengah Bertahan

    Di sisi lain, ketidakpastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz masih membayangi pasar global.

    Saham-saham semikonduktor menjadi motor penguatan Wall Street berkat tingginya permintaan berbasis AI. Saham Micron Technology melonjak 13,3%, sementara Marvell Technology naik 7,4%.

    Selain itu, saham Intel dan Qualcomm masing-masing menguat 1,6%. Indeks semikonduktor Philadelphia bahkan naik 4,1% ke rekor tertinggi sepanjang masa.

    Menang Tender Danantara, BIPI Gandeng Bakrie dan Tommy Soeharto Garap Energi Hijau

    Pada pukul 10.02 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average naik 73,76 poin atau 0,15% ke level 50.653,46.

    Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,71% menjadi 7.526,81 dan Nasdaq Composite naik 1,12% ke level 26.639,85.

    Indeks S&P 500 dan Russell 2000 juga sempat menyentuh rekor intraday tertinggi, menandakan reli pasar saham AS masih berlanjut.

    Dari 11 sektor utama di S&P 500, sebanyak delapan sektor bergerak menguat dengan sektor teknologi informasi memimpin kenaikan sebesar 1,5%.

    RUPST Citra Tubindo (CTBN) Sepakati Pembagian Dividen Hampir 100% dari Laba 2025

    Selain sektor AI, saham perusahaan antariksa juga melonjak. Saham Intuitive Machines naik 16%, sedangkan Planet Labs dan Rocket Lab masing-masing menguat 13,5% dan 5%.

    Optimisme pasar juga ditopang musim laporan keuangan kuartal I-2026 yang lebih baik dari perkiraan.

    Berdasarkan data LSEG, pertumbuhan laba perusahaan diperkirakan mencapai 29% secara tahunan, jauh di atas proyeksi sebulan sebelumnya sebesar 16,1%.

    Di sisi kebijakan moneter, Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada Jumat lalu.

    Pelantikannya terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi mendorong kebijakan moneter global lebih ketat.

    Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun ini, dengan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026.

  • Primaya Hospital (PRAY) catat pendapatan tumbuh 25% kuartal I-2026, ini pendorongnya

    Primaya Hospital (PRAY) catat pendapatan tumbuh 25% kuartal I-2026, ini pendorongnya

    kalselbabusalam.com JAKARTA. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) atau Primaya Hospital Group mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I-2026.

    Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 686,68 miliar atau naik 25,1% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 548,83 miliar.

    Piala Dunia 2026 Picu Persaingan Platform Streaming, Telkomsel Perkuat Jaringan

    Direktur Utama PRAY Leona A. Karnali mengatakan, pertumbuhan pendapatan ditopang kinerja rumah sakit baru, peningkatan performa sejumlah rumah sakit eksisting, serta pertumbuhan unit non-rumah sakit seperti Westerindo dan Smart Fertility Clinic.

    Dari sisi layanan, Primaya juga menghadirkan layanan rehabilitasi robotik untuk cedera menggunakan teknologi Cyberdyne HAL serta layanan HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) untuk penanganan kanker rongga perut.

    Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan layanan unggulan berbasis teknologi medis terkini.

    Manajemen mencatat EBITDA perusahaan meningkat 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Wall Street Menguat Ditopang Optimisme AI Selasa (26/5), Konflik Timur Tengah Memanas

    Namun, laba bersih perseroan pada kuartal I-2026 turun 48,6% YoY menjadi Rp 21,35 miliar dari sebelumnya Rp 41,56 miliar.

    Sepanjang 2025, PRAY membukukan pendapatan sebesar Rp 2,43 triliun atau tumbuh 16% YoY, sementara laba bersih meningkat 9% YoY menjadi Rp 211,4 miliar.

    Pada 2026, Primaya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15%–20% dan EBITDA sebesar 20%–25%.

    Target tersebut didorong fokus perusahaan pada ekspansi jaringan rumah sakit, penguatan layanan unggulan, serta transformasi digital.

    Sebagai bagian dari strategi pengembangan, PRAY akan melanjutkan ekspansi melalui pembukaan gedung baru Primaya Hospital PGI Cikini dan Primaya Hospital BSD.

    Hashim Sebut Internet Rakyat Berpotensi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI

    Leona mengatakan, perseroan akan terus memperkuat kapasitas layanan, menghadirkan inovasi medis dan digital, serta membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi sesuai kebutuhan masyarakat.

    “Melalui penguatan layanan, inovasi berkelanjutan, dan pengembangan ekosistem kesehatan yang terintegrasi, Primaya Hospital berkomitmen untuk terus tumbuh bersama kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Leona dalam keterangan resmi, Selasa (26/5).

  • IHSG dan rupiah anjlok menjelang libur Idul Adha

    IHSG dan rupiah anjlok menjelang libur Idul Adha

    INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) anlok ke level 6.130,19 pada penutupan perdagangan menjelang Idul Adha Selasa, 26 Mei 2026. Sementara itu nilai tukar rupiah juga melemah 52 poin terhadap dolar Amerika Serikat.

    Mengutip laman Bursa Efek Indonesia, hingga akhir sesi hari ini IHSG turun 1,23 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Indeks ditutup dengan nilai transaksi mencapai Rp 18,09 triliun, frekuensi trading sebanyak 1,96 juta kali dan volume trading sebanyak 24,88 miliar lembar saham.

    Sementara itu, rupiah spot ditutup melemah 52 poin ke level 17.795 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah besok bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah. “Di rentang Rp 17.790-17.850 per dolar AS,” ucapnya lewat analisis rutinnya Selasa, 26 Mei 2026.

    Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat. Faktor global yang memengaruhi didominasi perang yang masih terjadi di Timur Tengah. AS dilaporkan telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Pasukan AS mengklaim bahwa serangan tersebut untuk membela diri, dan menekankan gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.

    Tanggapan Iran terhadap aksi ini belum jelas. Namun, menurut Ibrahim, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara kedua negara. “Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut,” ucapnya

    Sedangkan dari sisi domestik, ia menjelaskan krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi mulai muncul akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan terhadap mata uang RI belum diprediksi kapan akan mereda.

    Kondisi ini berdampak pada meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor. “Sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.

    Pilihan Editor: Bagaimana Seharusnya Investor Merespons Penilian MSCI