Kategori: Finance

  • Rupiah melemah, dolar AS hingga franc Swiss jadi pilihan hedging investor

    Rupiah melemah, dolar AS hingga franc Swiss jadi pilihan hedging investor

    kalselbabusalam.com – JAKARTA. Pelemahan rupiah yang berlanjut dalam beberapa waktu terakhir mendorong investor domestik mulai melirik aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau hedging. Di tengah tekanan global yang masih kuat, strategi diversifikasi ke mata uang asing dinilai semakin relevan untuk menjaga nilai aset.

    Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ketidakpastian ekonomi global, serta dinamika domestik. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.801 per dolar AS pada Rabu (27/5/2026). Secara tahun berjalan, rupiah tercatat sudah terdepresiasi sekitar 6,8%.

    Pelemahan ini juga tercermin terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Rupiah melemah terhadap dolar Selandia Baru (NZD) sebesar 8,89%, franc Swiss (CHF) 7,78%, serta dolar Singapura (SGD) sekitar 7,50%.

    Terhadap dolar AS sendiri, pelemahan mencapai 6,71% year to date (YTD). Tekanan juga terlihat terhadap poundsterling Inggris (GBP) 6,72%, dolar Kanada (CAD) 6,06%, dan euro 5,59%.

    Di kawasan Asia, pelemahan terdalam terjadi terhadap yuan China (CNY) sebesar 10,07% YTD. Rupiah juga tertekan terhadap ringgit Malaysia (MYR) 9,25%, dolar Singapura 7,52%, yen Jepang (JPY) 5,02%, serta peso Filipina (PHP) 2,14%.

    Pelemahan Rupiah Berlanjut, Dolar AS Jadi Favorit untuk Simpan Valas

    USD/IDR Masih Jadi Instrumen Hedging Utama

    Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menilai dolar AS masih menjadi pilihan paling relevan untuk strategi lindung nilai terhadap rupiah.

    “Dalam kondisi saat ini, menurut saya pairing yang paling relevan untuk hedging terhadap rupiah masih USD/IDR, karena tekanan utama rupiah memang datang dari penguatan dolar global, kenaikan harga energi, dan arus modal keluar dari emerging market,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

    Menurutnya, dominasi dolar AS masih didukung oleh faktor fundamental global, termasuk statusnya sebagai mata uang utama perdagangan energi.

    Franc Swiss dan Yen Jepang Jadi Alternatif Safe Haven

    Selain dolar AS, investor juga mulai melirik franc Swiss (CHF) dan yen Jepang (JPY) sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

    Franc Swiss dinilai lebih stabil, sementara yen Jepang memiliki karakter lebih sensitif terhadap kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) dan sentimen pasar global.

    Di sisi lain, dolar Singapura (SGD) dianggap relatif defensif karena ditopang stabilitas ekonomi Singapura, sehingga sering digunakan sebagai proksi kondisi ekonomi kawasan Asia Tenggara. Sementara euro (EUR) dinilai masih kurang menarik akibat tekanan perlambatan ekonomi di kawasan Eropa.

    Prospek USD/IDR Masih Punya Peluang Penguatan

    Untuk peluang keuntungan dalam beberapa bulan ke depan, USD/IDR masih dinilai memiliki potensi terbesar. Hal ini didorong oleh harga minyak yang cenderung tinggi serta belum adanya sinyal kuat penurunan suku bunga dari bank sentral AS.

    “Dolar saat ini juga didukung statusnya sebagai petrodollar. Ketika risiko geopolitik meningkat dan distribusi energi global terganggu, permintaan terhadap USD ikut naik,” jelasnya.

    Bursa Asia Bergerak Mixed Rabu (27/5), Cek Proyeksi dan Sentimen untuk Kamis (28/5)

    Strategi Investor: Akumulasi Bertahap, Hindari All-In

    Meski demikian, investor disarankan tetap berhati-hati. Strategi akumulasi valas secara bertahap dinilai lebih aman dibandingkan pembelian sekaligus dalam jumlah besar.

    Menurut Brahmantya, risiko utama investasi valas saat ini berasal dari perubahan sentimen global. Jika tensi geopolitik mereda atau The Federal Reserve mulai memberi sinyal penurunan suku bunga, dolar AS berpotensi mengalami koreksi tajam.

    Ke depan, ia memproyeksikan USD/IDR bergerak pada kisaran 18.000–18.500 hingga semester I 2026. Namun, arah pergerakan tetap sangat bergantung pada dinamika geopolitik, harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga global.

    “Dalam situasi seperti sekarang, tujuan utama hedging bukan mencari keuntungan terbesar, tapi menjaga daya beli dan stabilitas aset ketika rupiah sedang berada di bawah tekanan global,” tutup Brahmantya.

  • Purbaya optimistis penerimaan negara Rp 3.153,6 T tercapai

    Purbaya optimistis penerimaan negara Rp 3.153,6 T tercapai

    MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penerimaan negara yang tahun ini ditargetkan Rp 3.153,6 triliun akan tercapai. Ia mengklaim sederet perbaikan dari sisi bea dan cukai serta pajak, termasuk Coretax, mempu mendongkrak pendapatan di 2026.

    Sebelumnya, kata Purbaya, sistem Coretax banyak diprotes oleh wajib pajak. “Sekarang juga masih ada protes, tapi kan udah sedikit. Tapi kinerja Cortax bisa meningkatkan pendapatan dari pajak yang kurang cukup signifikan,” kata dia seusai salat Idul Adha di Masjid kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.

    Menurut Purbaya, keberadaan sistem yang dikembangkan Kementerian Keuangan itu membuat semua penerimaan pajak dihitung hampir otomatis, sehingga wajib pajak sulit mengelak dari kewajiban pembayarannya. “Itu yang membuat pendapatan dari Cortax meningkat dibanding tahun sebelumnya cukup signifikan,” ujarnya lagi.

    Bendahara Negara itu juga meyakini target penerimaan negara bakal tercapai imbas restrukturisasi yang dilakukan di sektor pajak dan bea dan cukai. Pemerintah bakal terus menggunakan teknologi yang ada untuk meningkatkan pendapatan.

    Kementerian Keuangan juga akan mengoptimalkan penggunaan akal imitasi (AI) untuk mengerek penerimaan di direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. “Jadi, kelihatannya target tahun ini akan baik,” ucapnya.

    Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga April 2026, pendapatan negara berhasil menembus angka Rp 918,4 triliun, atau tumbuh 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan penerimaan ditopang oleh kinerja penerimaan pajak tumbuh 16,1 persen didukung Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi yang naik 25 persen, PPh 21 atau pajak gaji karyawan yang tumbuh 21 persen, serta pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPN-BM yang melonjak hingga 40 persen.

    APBN 2026 dirancang denga target pendapatan negara Rp 3.153,6 triliun dan belanja negara Rp 3.842,7 triliun. Dengan demikian defisit anggaran ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

    Pilihan Editor: Mengapa Kenaikan Suku Bunga BI-Rate Tak Menguatkan Rupiah

  • Harga emas Antam Rabu, 27 Mei 2026: turun Rp 13.000 jadi Rp 2.785.000 per gram

    Harga emas Antam Rabu, 27 Mei 2026: turun Rp 13.000 jadi Rp 2.785.000 per gram

    kalselbabusalam.com – Harga emas Antam tercatat turun sebesar Rp 13.000 menjadi Rp 2.785.000 per gram pada perdagangan Rabu (27/5). Harga tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan sebelumnya yang berada di level Rp 2.798.000 per gram, pada perdagangan Selasa (26/5).

    Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam paling murah ukuran 0,5 gram kini dibanderol Rp 1.442.500. Harga emas ukuran 5 gram tercatat Rp 13.740.000.

    Begitu juga harga emas Antam untuk harga untuk emas ukuran 10 gram tercatat sebesar Rp 27.400.000. Lalu, emas ukuran 25 gram dijual dengan harga Rp 68.335.000.

    Ternyata Bukan Daging Kambing yang Bikin Hipertensi Usai Idul Adha, tapi Olahannya

    Selanjutnya, emas Antam berukuran 50 gram ditawarkan seharga Rp 136.505.000. Kemudian, emas Antam dengan berat 100 gram dibanderol Rp 272.860.000. Sedangkan emas terbesar berukuran 1.000 gram dibanderol Rp2.725.600.000.

    Harga yang turun juga berlaku untuk penjualan kembali atau buyback sebesar Rp 13.000 menjadi Rp 2.594.000 per gram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan buyback sebelumnya yang dikenakan Rp 2.798.000 per gram.

    Jika masyarakat ingin menjual emas koleksinya akan dikenakan harga senilai Rp 2.594.000 per gram. Bagi pemilik emas batangan yang telah dibeli sejak November tahun 2022 atau sekitar tiga tahun ke belakang, maka harga jual yang diperoleh sangat menguntungkan alias cuan.

    Pasalnya, harga emas pada 26 November 2022 berada di level Rp 936.000 per gram. Jika saja memiliki 5 gram dengan harga beli mencapai Rp 4.680.000, apabila dijual saat ini maka akan laku sebesar Rp 12.970.000 (belum termasuk pajak).

    Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh secara total dari penjualan 5 gram emas Antam tahun 2022 tersebut sebesar Rp 8.290.000.

    Berikut rincian harga emas Antam hari ini, Rabu (27/5) dari 0,5 gram hingga 1.000 gram di BELM – Setiabudi One, Jakarta Selatan:

    ⁠- Harga emas 0,5 gram: Rp1.442.500

    – Harga emas 1 gram: Rp2.785.000

    ‎- Harga emas 2 gram: Rp5.520.000

    ‎- Harga emas 3 gram: Rp8.262.000

    ‎- Harga emas 5 gram: Rp13.740.000

    ‎- Harga emas 10 gram: Rp27.400.000

    ‎- Harga emas 25 gram: Rp68.335.000

    ‎- Harga emas 50 gram: Rp136.505.000

    ‎- Harga emas 100 gram: Rp272.860.000

    ‎- Harga emas 250 gram: Rp681.840.000

    ‎- Harga emas 500 gram: Rp1.363.400.000

    ‎- Harga emas 1.000 gram: Rp2.725.600.000.

  • Bumi Resources (BUMI) mulai perdagangkan obligasi Rp 1,84 triliun, begini prospeknya

    Bumi Resources (BUMI) mulai perdagangkan obligasi Rp 1,84 triliun, begini prospeknya

    kalselbabusalam.com JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih gencar mencari dana untuk pengembangan bisnisnya. Emiten produsen batubara ini pun menerbitkan obligasi senilai Rp 1,84 triliun.

    Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 diterbitkan pada 26 Mei 2026 dan akan resmi tercatat di bursa mulai 29 Mei 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    Emisi obligasi ini terbagi menjadi tiga seri dengan tingkat bunga yang bervariasi. Pertama, Seri A memiliki nilai Rp 600,04 miliar dengan kupon 7,50% dan jatuh tempo pada 6 Juni 2027.

    Kedua, Seri B diterbitkan senilai Rp 905,97 miliar dengan bunga 8,75% dan tenor hingga 26 Mei 2029.

    Ketiga, Seri C memiliki nilai Rp 333,86 miliar dengan kupon tertinggi sebesar 9,05% dan jatuh tempo pada 26 Mei 2031.

    Seluruh dana yang diperoleh akan digunakan untuk dua hal utama. Pertama, sekitar Rp 1,5 triliun akan digunakan untuk pemberian pinjaman kepada perusahaan anak, yaitu Arutmin, sesuai Perjanjian Pinjaman tanggal 28 April 2026. Dana itu selanjutnya akan digunakan Arutmin untuk kebutuhan modal kerja yang akan dipakai membiayai operasional sehari-hari.

    Pasar Obligasi Korporasi Dibayangi Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Yield

    Berdasarkan Perjanjian Pinjaman tanggal 28 April 2026, Pinjaman Tranche A dan Tranche B akan dikenakan bunga yang sama dengan masing-masing Obligasi Seri A Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 sebesar 7,50% + margin 0,5%, dan Obligasi Seri B Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 sebesar 8,75% + margin 0,5%.

    Dalam hal pinjaman Tranche A dan Tranche B tersebut telah dikembalikan oleh Arutmin kepada perseroan, dana tersebut akan digunakan perseroan untuk pembayaran pokok dan bunga Obligasi Seri A dan B dari Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026.

    Sisanya, dana yang diperoleh akan digunakan untuk modal kerja BUMI, yakni biaya-biaya sehubungan dengan kegiatan operasional sehari-hari yang terdiri dari biaya gaji dan tunjangan karyawan, biaya jasa profesional (seperti jasa konsultan pajak, jasa audit, dan jasa konsultan IT), biaya pajak, serta biaya keuangan (seperti biaya bunga dan biaya selisih kurs).

    Penerbitan obligasi ini menggunakan jasa wali amanat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), serta telah memperoleh peringkat idA+ dari Pefindo.

    Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpandangan, rating idA+ dari Pefindo mencerminkan bahwa BUMI memiliki kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban jangka panjang.

    Melihat Prospek Emiten Properti Aguan yang Sahamnya Turun Sejak Awal 2026

    “Tingkat kupon obligasi tersebut juga dinilai masih kompetitif lantaran berada di atas yield rata-rata obligasi korporasi sekelasnya, sehingga bisa menjadi alternatif instrumen investasi yang defensif,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

    Ke depan, kinerja BUMI juga masih prospektif lantaran struktur permodalannya sudah lebih sehat pascarestrukturisasi. Alhasil, penambahan utang lewat obligasi ini tidak akan menekan neraca keuangan BUMI secara signifikan, tetapi bisa menjaga likuiditas operasional tetap stabil.

    Diversifikasi bisnis BUMI ke mineral kritis juga dinilai bisa memperkuat kinerja ke depan. Akuisisi BUMI atas sejumlah perusahaan tambang asal Australia juga menjadi katalis positif.

    Sebagai pengingat, BUMI berencana mengakuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals (LLM). BUMI mengajukan penawaran akuisisi Loyal Metals senilai sekitar US$ 79 juta atau dengan harga US$ 0,45 per saham.

    LLM tengah mengembangkan proyek tembaga dan emas Highway Reward yang berlokasi 37 kilometer (km) di selatan Charters Towers, Queensland Utara. Loyal Metals memulai eksplorasi di Highway Reward.

    Selama beroperasi dari 1987 sampai 2005, Highway Reward mencatatkan total produksi sebesar 3,65 juta ton dengan kadar tembaga 5,7% dan sekitar 260.000 ton dengan kadar emas 4,5 g/t.

      BUMI Chart by TradingView  

    Dari proses pengeboran baru-baru ini, telah dikonfirmasi bahwa Loyal Metals memiliki komoditas tembaga, emas, dan perak yang berada di bawah dinding timur bekas tambang terbuka di lokasi tersebut. Di samping itu, Loyal Metals juga memiliki dua proyek lithium di Kanada.

    Sebelumnya, BUMI pada November 2025 telah mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang asal Australia, Wolfram Limited, senilai Rp 698,98 miliar.

    Lalu, pada 18 Desember 2025, BUMI mengakuisisi tambang lain di Australia, yakni Jubilee Metals Limited dengan porsi 5,73 juta saham atau setara 64,98%.

    “Sentimen negatifnya berasal dari normalisasi harga batubara dan tekanan makroekonomi dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI),” ungkapnya.

    Namun, Nafan masih merekomendasikan wait and see untuk BUMI.

  • Ekspor CPO Indonesia ke sembilan negara ini anjlok

    Ekspor CPO Indonesia ke sembilan negara ini anjlok

    GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mencatat penurunan produksi hingga konsumsi minyak sawit mentah atau CPO secara bulanan. “Produksi CPO bulan Maret 2026 mencapai 4.403 ton, turun 12,22 persen dari bulan sebelumnya 5.015 ton,” mengutip keterangan tertulis Gapki, Senin, 25 Mei 2026.

    Selain CPO, Gapki melaporkan penurunan produksi olahan minyak inti sawit (PKO) pada Maret 2026. Gapki mencatat produksi PKO turun 12,35 persen menjadi 418 ribu ton.

    Total konsumsi dalam negeri juga menurun 8,25 persen menjadi 2.115 ton pada Maret dibanding Februari yang tercatat 2.305 ton. Gapki melaporkan penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan sebesar 9,03 persen menjadi 897 ribu ton pada Maret.

    Pada Maret, konsumsi biodiesel pun turun 7,71 persen menjadi 1.056 ton. Begitupun dengan konsumsi oleokimia yang turun 7,43 persen menjadi 162 ribu ton. Meskipun turun secara bulanan, Gapki melaporkan konsumsi dalam negeri CPO hingga Maret 2026 meningkat 7,47 persen secara tahunan menjadi 6.524 ton.

    Selain konsumsi dalam negeri, Gapki mencatat penurunan kinerja ekspor total produk sawit sebesar 34,25 persen pada Maret 2026. Volume ekspor produk sawit tercatat sebesar 2.168 ton, lebih rendah dibandingkan capaian pada Februari 2026 yakni 3.297 ton.

    Untuk produk CPO, Gapki melaporkan penurunan ekspor hingga 75,61 persen pada Maret 2026. Total volume ekspor CPO pada bulan ketiga adalah 96 ribu ton, anjlok dibanding capaian Februari 2026 sebesar 295 ribu ton.

    Sementara itu, olahan minyak inti sawit (PKO) turun 33,57 persen menjadi 1.506 ton pada Maret. Satu-satunya produk turunan kelapa sawit yang mengalami pertumbuhan ekspor adalah oleokimia. Kinerja ekspor oleokimia naik 1,42 persen menjadi 468 ribu ton. Secara tahunan, ekspor oleokimia naik 11,91 persen menjadi 8.546 ton.

    Berdasarkan negara tujuan, Gapki mencatat penurunan ekspor di sembilan negara. Untuk pasar Cina, Gapki mencatat penurunan sebesar 314 ribu ton pada Maret. Penurunan ekspor ke India tercatat sebanyak 291 ribu ton. Kemudian penurunan ekspor ke Pakistan sebesar 113 ribu ton. Sementara itu penurunan ekspor ke Bangladesh mencapai 90 ribu ton.

    Adapun penurunan ekspor ke Afrika turun 81 ribu ton. Sementara itu, negara Timur Tengah tercatat anjlok 77 ribu ton. Sementara Malaysia turun 71 ribu ton, Amerika Serikat turun 41 ribu ton, dan ekspor ke negara Uni Eropa turun 25 ribu ton. Di antara semua negara, Gapki mencatat kenaikan ekspor hanya terjadi pada Rusia sebesar 24 ribu ton.

    Nilai ekspor produk sawit pada Maret turun sebesar 29,27 persen dibanding Februari. Nilai ekspornya tercatat menjadi US$ 2,61 miliar. Meskipun turun secara bulanan, nilai ekspor hingga Maret 2026 lebih tinggi 10,40 persen secara tahunan.

    Menurut Gapki, kenaikan nilai ekspor secara tahunan sampai dengan Maret terjadi karena lonjakan volume ekspor dan kenaikan harga rata-rata Januari–Maret 2026 sebesar US$ 1.356 per ton Cif Rotterdam.

    Dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2.026 ribu ton, produksi 4.821 ribu ton, konsumsi 2.115 ton dan ekspor 2.168 ribu ton, Gapki mencatat stok akhir pada bulan ketiga adalah sebesar 2.568 ton atau meningkat secara bulanan.

    Pilihan Editor: Manfaat-Mudarat Ekspor Komoditas Satu Pintu

  • Libur Idul Adha, harga emas Antam turun Rp 13.000 ke Rp 2.785.000 per gram

    Libur Idul Adha, harga emas Antam turun Rp 13.000 ke Rp 2.785.000 per gram

    Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam terpantau turun pada libur Idul Adha, Rabu (27/5). Berdasarkan situs Logam Mulia, harga emas hari ini turun Rp 13.000 menjadi Rp 2.785.000 per gram.

    Harga jual kembali atau buyback emas Antam hari ini juga turun Rp 13.000 menjadi Rp 2.594.000 per gram pada hari sebelumnya.

    Dalam PMK Nomor 48 Tahun 2023, konsumen akhir dibebaskan Pajak Penghasilan (PPh) saat membeli emas batangan. Namun, pengusaha emas wajib memungut PPh 22 sebesar 0,25 persen dari harga jual, turun dari aturan sebelumnya sebesar 0,45 persen.

    Harga emas ini berlaku di Butik Emas Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta. Untuk harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

    Berikut rincian harga emas batangan Antam hari ini:

    1 gram: Rp 2.785.000

    5 gram: Rp 13.700.000

    10 gram: Rp 27.345.000

    25 gram: Rp 68.237.000

    50 gram: Rp 136.395.000

    100 gram: Rp 272.712.000

    250 gram: Rp 681.515.000

    500 gram: Rp 1.362.820.000

    1.000 gram: Rp 2.725.600.000

    Emas Galeri24

    Sementara itu, harga emas Galeri24 di situs resminya per hari ini terpantau naik menjadi Rp 2.774.000 per gram, dengan harga buyback yang berada di Rp 2.602.000 per gram.

    Berikut rincian harga emas Galeri24 di situs resminya:

    0,5 gram: Rp 1.455.000

    1 gram: Rp 2.774.000

    2 gram: Rp 5.481.000

    5 gram: Rp 13.602.000

    10 gram: Rp 27.131.000

    25 gram: Rp 67.463.000

    50 gram: Rp 134.820.000

    100 gram: Rp 269.506.000

    250 gram: Rp 672.110.000

    500 gram: Rp 1.344.219.000

    1.000 gram: Rp 2.688.437.000

    Harga buyback Galeri24:

    0,5 gram: Rp 1.301.000

    1 gram: Rp 2.602.000

    2 gram: Rp 5.204.000

    5 gram: Rp 13.010.000

    10 gram: Rp 26.021.000

    25 gram: Rp 64.733.000

    50 gram: Rp 129.466.000

    100 gram: Rp 258.932.000

    250 gram: Rp 644.135.000

    500 gram: Rp 1.288.271.000

    1.000 gram: Rp 2.576.543.000

  • Pasar obligasi korporasi dibayangi pelemahan rupiah dan kenaikan yield

    Pasar obligasi korporasi dibayangi pelemahan rupiah dan kenaikan yield

    kalselbabusalam.com – JAKARTA. Prospek pasar obligasi korporasi hingga akhir 2026 diperkirakan masih bergerak dinamis seiring tekanan eksternal yang belum mereda. Pelemahan rupiah, kenaikan yield global, serta ketidakpastian geopolitik dinilai menjadi kombinasi sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar dan calon emiten.

    Fixed Income Analyst PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Doni Kuswantoro, mengatakan outlook suku bunga global dan domestik saat ini menjadi perhatian utama pelaku pasar obligasi.

    Menurut dia, sentimen pasar cenderung tertekan akibat kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta mempengaruhi ekspektasi suku bunga, sehingga mendorong kenaikan yield obligasi secara global.

    “Konflik yang terus berkepanjangan dapat semakin menaikkan tingkat yield obligasi, sementara resolusi konflik dan normalisasi harga minyak dapat mengurangi kekhawatiran pasar dan lebih suportif pada tingkat yield obligasi,” ujar Doni kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

    Yield SBN Naik, Pasar Obligasi Korporasi Diperkirakan Mulai Tertekan

    Selain faktor geopolitik, risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi perhatian. Asal tahu saja, nilai tukar rupiah tembus di atas Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan hari ini. Rabu (27/5/2026), rupiah dibuka di level Rp 17.834 per dolar AS

    Menurut Doni, pelemahan kurs dapat menghambat minat calon emiten melakukan ekspansi melalui pasar modal, terutama perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

    Di tengah kondisi tersebut, Doni memperkirakan tren yield obligasi korporasi hingga akhir tahun masih akan bergerak dinamis. “Yield diperkirakan tetap dinamis dalam jangka pendek karena ketidakpastian kondisi Timur Tengah,” katanya.

    Melansir data Pefindo, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun kategori AAA berada di level sekitar 5,8% pada kuartal I-2026, mulai menanjak naik dibanding kuartal IV-2025 di kisaran 5,7%-5,8%, tetapi lebih rendah dari periode kuartal I-2025 yang di kisaran 7%.

    Obligasi Korporasi Masih Solid, Namun Semester II-2026 Perlu Diwaspadai

    Karena itu, strategi investasi yang mengedepankan kualitas aset dinilai semakin penting. Doni menyarankan investor untuk fokus pada obligasi dengan kualitas kredit yang baik serta menerapkan diversifikasi portofolio guna menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.

    Menurut dia, level yield yang saat ini masih relatif tinggi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengunci potensi return yang lebih menarik. Namun, strategi tersebut perlu diimbangi dengan disiplin dalam seleksi kredit dan perhatian terhadap likuiditas pasar.

    Doni menambahkan, investor juga dapat mempertimbangkan investasi melalui reksa dana pendapatan tetap (fixed income fund) sebagai alternatif strategi di tengah pasar yang fluktuatif.

    “Portofolio dikelola secara aktif oleh fund manager sehingga dapat menjadi solusi efektif dalam kondisi pasar yang dinamis,” tutup Doni.

    BI Rate Naik, Investor Obligasi Kini Ubah Strategi Fokus Kupon & Tenor Pendek

  • Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang terguncang akibat Perang AS-Iran

    Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang terguncang akibat Perang AS-Iran

    Ketika perang AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari, bukan hanya Timur Tengah yang merasakan dampaknya. Saat konflik tersebut mengganggu lalu lintas barang di seluruh dunia, harga minyak melonjak, mendorong inflasi, dan mengguncang pasar global.

    Seperti yang sering terjadi pada masa ketidakpastian, sebagian investor menjauhi investasi yang dianggap lebih berisiko di pasar negara berkembang.

    Para investor kemudian memilih menempatkan uang mereka pada dolar AS, yang secara tradisional dipandang sebagai aset aman.

    Hal ini berdampak pada banyak mata uang. Beberapa mata uang anjlok nilainya, sementara yang lain lebih bergejolak dan beberapa bahkan menguat.

    Harga minyak “mempengaruhi semua orang… fluktuasi mata uang dapat memperkuat atau meredam dampak tersebut”, kata André Perfeito, ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE.

    Jadi, ketika dikombinasikan dengan faktor lain yang juga mempengaruhi ekonomi, apa arti fluktuasi mata uang ini bagi masing-masing negara dan warganya?

    Negara yang paling terdampak

    Negara-negara yang mengimpor sebagian besar energinya, khususnya minyak, mengalami tekanan pada mata uangnya.

    Negara-negara itu mencakup India, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Mesir, yang semuanya menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan kekurangan devisa yang berkepanjangan.

    Seiring investor mengalihkan dana ke dolar AS, permintaan terhadap mata uang negara-negara ini menurun dan nilainya melemah. Akibatnya, biaya pembayaran utang yang diterbitkan dalam dolar AS naik drastis.

    Minyak mentah dan barang lainnya—yang terdampak oleh hambatan di Selat Hormuz—umumnya juga dihargai dalam dolar AS.

    Ketika nilai mata uang turun, impor menjadi relatif lebih mahal. Hal ini mempengaruhi segala hal, mulai dari harga BBM hingga plastik dan pupuk.

    Dampaknya akan terasa pada harga makanan dan barang sehari-hari di toko.

    Di India, rupee telah melemah sekitar 5% terhadap dolar AS sejak awal perang Iran-AS dan berulang kali mencatat titik terendah baru saat harga minyak naik.

    Mata uang India tersebut sebenarnya sudah melemah sebelum konflik, dan dampak perang semakin memperkuat tren itu.

    Baca juga:

    • Masalah di balik pernyataan Presiden Prabowo ‘rakyat di desa enggak pakai dolar’
    • Suku bunga acuan naik, cicilan akan naik, kelas menengah siap-siap turun kelas – Apa saja dampak kenaikan BI Rate?
    • Rupiah cetak rekor terlemah, apa yang akan terjadi selanjutnya?

    Beberapa bank sentral merespons dengan menaikkan suku bunga dan menjual sebagian cadangan dolar AS mereka untuk menopang nilai mata uang.

    Bank Indonesia mengambil kedua langkah ini, berulang kali menjual dolar dan membeli rupiah untuk meningkatkan permintaan.

    Ketika suku bunga naik, itu berarti masyarakat memperoleh imbal hasil lebih tinggi atas tabungan mereka, tetapi juga berarti cicilan utang seperti KPR dan pinjaman lainnya menjadi lebih mahal.

    Bergejolak dan cenderung naik

    Beberapa mata uang lain lebih bergejolak.

    Negara-negara seperti Afrika Selatan, Kolombia, Chile, dan Meksiko termasuk dalam kategori ini.

    Mata uang negara-negara tersebut sering bereaksi kuat terhadap sentimen pasar global: melemah ketika investor beralih ke aset aman seperti dolar, tetapi dapat pulih dengan cepat ketika harga komoditas naik atau minat mengambil risiko kembali.

    Beberapa pengekspor energi, termasuk Brasil dan Malaysia, diuntungkan dari harga minyak yang lebih tinggi karena meningkatkan pendapatan ekspor dan mendukung minat investor.

    Bank-bank termasuk Goldman Sachs dan Bank of America menyoroti permintaan kuat untuk obligasi pemerintah Brasil dan saham perusahaan dalam laporan kepada klien pada April. Goldman Sachs bahkan menyebut Brasil sebagai pilihan utama di pasar berkembang.

    Namun, Martín Castellano, kepala riset Amerika Latin di Institute of International Finance, mengatakan harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi di Brasil, menunda pemotongan suku bunga, dan mempengaruhi aliran modal.

    Brasil juga mengimpor produk olahan seperti bensin dan diesel, yang meningkatkan biaya bahan bakar di dalam negeri.

    Selain itu, ketidakpastian politik menjelang pemilu presiden pada Oktober “akan meningkatkan premi risiko pada nilai tukar”, tulis ekonom Luiza Pinese dari perusahaan manajemen investasi Brasil, XP, dalam laporan terbaru.

    Baca juga:

    • Ketika rakyat dan pemerintah sama-sama dalam ‘mode bertahan’ – ‘Ekonomi tidak baik-baik saja’
    • Harga BBM dan LPG nonsubsidi naik, warga kelas menengah ‘turun kelas’ – ‘Boro-boro menabung’

    Kelompok mata uang lain tetap lebih tangguh karena alasan berbeda.

    Mata uang China relatif stabil, sebagian didukung oleh kontrol modal dan intervensi kebijakan yang membatasi fluktuasi tajam.

    Langkah ini mencakup pembatasan arus uang masuk dan keluar negara serta intervensi langsung bank sentral untuk mengelola nilai tukar yuan secara ketat.

    Rubel Rusia, salah satu mata uang dengan kinerja terbaik terhadap dolar sejak perang Iran pecah. Penyebabnya, pendapatan energi yang tinggi dan kontrol modal yang ketat, termasuk kebijakan yang mewajibkan eksportir mengonversi pendapatan valas menjadi rubel dan membatasi arus keluar uang.

    Bagaimana dengan negara-negara ekonomi maju?

    Mata uang negara-negara maju menguat pada awal krisis ketika investor cari aman.

    Dolar AS dan franc Swiss sama-sama mencapai puncak sebelum kembali ke tingkat yang sama sebelum perang.

    Mata uang yang terkait dengan minyak, seperti krone Norwegia, mendapat dorongan signifikan dari kenaikan harga minyak mentah.

    Yen Jepang tidak berperilaku seperti mata uang negara maju pada umumnya dan justru melemah. Penyebabnya karena Jepang sangat bergantung pada impor energi.

    Dolar Kanada dan Australia juga mendapat manfaat dari harga komoditas yang lebih kuat, seperti minyak mentah, gas, logam, bijih besi, dan batu bara, meskipun kekhawatiran tentang pertumbuhan global dan ketegangan perdagangan membatasi kenaikan tersebut.

    Euro dan pound sterling juga mengalami volatilitas, didorong oleh kekhawatiran kenaikan biaya energi, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan di Eropa.

    Apa yang terjadi selanjutnya?

    Para ekonom mengatakan bahwa meskipun serangan awal ke Iran mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman dan menguatkan dolar, mata uang AS tersebut melemah sejak perang berlangsung. Hal ini dinilai dapat membantu pasar negara berkembang.

    “Dolar yang lebih lemah biasanya berarti kondisi moneter yang lebih longgar, ruang lebih besar untuk pemotongan suku bunga di negara berkembang, dan penurunan penghindaran risiko—semuanya menguntungkan pasar negara berkembang,” kata ekonom di perusahaan investasi global Inggris, AllianceBernstein, dalam laporan terbaru.

    Lembaga itu menambahkan bahwa peran dolar tetap sentral, karena banyak utang negara berkembang berbentuk dolar AS dan komoditas utama juga dihargai dalam dolar, sehingga dolar yang lebih lemah cenderung memperbaiki prospek mereka.

    Namun, IMF memperingatkan pada April bahwa gangguan berkelanjutan akibat perang Iran mendorong ekonomi global menuju kondisi “merugikan”, ditandai oleh kombinasi pertumbuhan lemah dan inflasi yang lebih tinggi.

    Dalam situasi seperti ini—di mana harga minyak tetap tinggi, inflasi menjadi kurang stabil, dan kondisi keuangan mengetat—pertumbuhan global dapat turun menjadi 2,5% dengan inflasi naik menjadi 5,4%, dibandingkan dengan perkiraan saat ini sebesar 3,1% dengan inflasi 4,4%.

    IMF juga menguraikan skenario yang lebih parah, di mana pertumbuhan global turun menjadi 2,0% dan inflasi melebihi 6%.

    Lembaga tersebut diperkirakan akan memperbarui proyeksinya lagi pada Juli.

    • Petani terjepit tekanan rupiah melemah dan ancaman El Nino – ‘Harga-harga naik, terancam gagal panen’
    • Mengapa rakyat India diminta tidak membeli emas selama setahun?
    • Bagaimana perang Iran bisa mengeringkan ‘lumbung padi’ Asia
  • PGN bagi dividen Rp 3,04 triliun

    PGN bagi dividen Rp 3,04 triliun

    kalselbabusalam.com – , JAKARTA — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PT Perusahaan Gas Negara Tbk menyetujui pembagian dividen tunai sebesar 172,29 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,04 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025. Nilai tersebut setara 80 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 215,36 juta dolar AS.

    Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, perseroan mempertahankan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) sebesar 80 persen sebagai upaya menjaga keseimbangan antara imbal hasil bagi pemegang saham dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

    “Rasio pembayaran dividen kepada pemegang saham sebesar 80 persen juga mencerminkan keyakinan perseroan terhadap kualitas cash flow, disiplin keuangan, dan kekuatan fundamental bisnis PGN di tengah dinamika industri energi global,” ujar Fajriyah dalam keterangannya, Senin (26/5/2026).

    Menurut dia, PGN tetap melanjutkan kebijakan dividen yang konsisten dengan tetap menjaga fleksibilitas keuangan untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan bisnis gas bumi nasional.

    PGN menilai prospek bisnis gas bumi domestik masih positif seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional dan peran gas bumi sebagai energi transisi. Perseroan juga terus menjaga keandalan operasional melalui pengelolaan portofolio gas berbasis pipa dan LNG secara adaptif, optimalisasi infrastruktur, serta efisiensi operasional dan keuangan.

    “Ke depan, PGN akan terus menjalankan strategi pertumbuhan secara prudent dengan tetap menerapkan disiplin keuangan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” kata Fajriyah.

    Selain menyetujui pembagian dividen, pemegang saham juga menyetujui sejumlah agenda strategis lain dalam RUPST, di antaranya penggunaan laba bersih, perubahan anggaran dasar, penetapan auditor, serta agenda pengembangan bisnis dan tata kelola perusahaan.

  • Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz, Simak Rekomendasi Saham Telkom (TLKM)

    Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz, Simak Rekomendasi Saham Telkom (TLKM)

    kalselbabusalam.com – JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah membuka proses seleksi (lelang) pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler tahun 2026. Pemenang lelang diperkirakan akan diumumkan pada akhir Juli 2026.

    Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Bob Setiadi mengatakan bahwa PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sedang meninjau persyaratan penawaran dan bertujuan untuk mengamankan spektrum sebanyak mungkin. Manajemen mencatat bahwa hanya dua operator telekomunikasi lain yang mengajukan penawaran untuk kedua pita frekuensi tersebut. 

    Mereka juga mengatakan bahwa persyaratan pembayaran menjadi lebih menguntungkan, di mana pemerintah sekarang mensyaratkan dua kali lipat biaya spektrum tahunan pada tahun pertama (dibandingkan tiga kali lipat sebelumnya). 

    “Terakhir, mereka mengatakan bahwa peluncuran 5G akan dilakukan secara hati-hati, berdasarkan kesiapan pasar dan penetrasi headset 5G,” ujar Bob dalam risetnya pada 12 Mei 2026. 

    Peningkatan Efisiensi Operasional, Begini Prospek Kinerja Telkom (TLKM)

    Gani, Analis OCBC Sekuritas memperkirakan, semua segmen bisnis TLKM akan mencatatkan pertumbuhan pada tahun ini.

    Namun tantangan yang perlu diperhatikan adalah kondisi makroekonomi yang kurang mendukung. Daya beli, persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi, dan perkembangan eksekusi unlocking asset juga perlu dicermati untuk melihat kinerja TLKM ke depan. 

    “Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 kemungkinan akan meningkat didorong perbaikan ARPU di bisnis selular dan pertumbuhan di lini bisnis lain,” ucap Gani kepada Kontan, Selasa (26/5/2026). 

    Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang dinormalisasi sebesar 1% – 3% pada tahun 2026, yang menyiratkan pemulihan bertahap dari pendapatan yang menurun 2,2% pada tahun 2025. 

    “Kami memperkirakan tahun 2026 akan menandai awal normalisasi pendapatan, didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan struktur biaya yang lebih sehat,” ujar Leonardo Lijuwardi, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 20 Mei 2026. 

    Leonardo mengatakan, valuasi TLKM saat ini menarik, didukung oleh tekanan penjualan asing yang relatif terbatas yang tercermin dalam pergerakan harga sahamnya baru-baru ini. Serta karakteristik defensifnya yang memposisikan saham tersebut sebagai aset lindung nilai portofolio di tengah volatilitas yang tinggi di pasar ekuitas Indonesia. 

    Bumi Resources (BUMI) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,84 Triliun

    Di luar profil bisnisnya yang tangguh dan stabil, inisiatif strategis TLKM termasuk perampingan operasional, pelepasan nilai dari aset fiber melalui Infranexia, dan perluasan bisnis pusat datanya dapat memberikan katalis positif jangka menengah saat perusahaan bertransisi ke fase bisnis yang lebih matang.

    Dalam jangka pendek, Leonardo bilang, katalis positif untuk TLKM, termasuk keberhasilan pelaksanaan inisiatif efisiensi operasional, bersamaan dengan potensi peningkatan ARPU dan hasil sejalan dengan lingkungan industri yang pulih. 

    “Risiko penurunan utama meliputi daya beli konsumen yang lebih lemah yang dapat mengurangi permintaan untuk layanan data, persaingan yang semakin ketat di antara operator telekomunikasi, khususnya dalam hal penetapan harga, serta potensi penundaan dalam proses transformasi bisnis TLKM,” ucap Leonardo. 

    Sementara, John Te, Analis UBS Sekuritas Indonesia mencatat tahap 2 dari pemisahan aset serat opti ditunda satu kuartal karena masalah perizinan dan diperkirakan akan selesai pada kuartal III – 2026. Telkom juga sedang menjajaki konsolidasi aset serat optik yang dimiliki oleh BUMN lain ke dalam penawaran Infranexia-nya.

    “Meskipun terjadi penurunan laba, Telkom berencana untuk menyamai atau melampaui jumlah dividen absolut untuk laba tahun 2025,” kata John dalam risetnya pada 12 Mei 2026. 

    Leonardo memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih TLKM tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 151,04 triliun dan Rp 23,78 triliun. Adapun pada tahun 2025, TLKM mengantongi pendapatan Rp 146,7 triliun dan laba bersih Rp 17,8 triliun. 

      TLKM Chart by TradingView  

    Leonardo, John, dan Gani memberikan rekomendasi saham buy untuk TLKM dengan target harga masing – masing Rp 3.700 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 4.200 per saham.

    Sedangkan Bob merekomendasikan add saham TLKM dengan target harga Rp 4.100 per saham.