Tag: stabilitas nilai tukar

  • DPR sebut bauran kebijakan BI tangani rupiah masih konvensional

    DPR sebut bauran kebijakan BI tangani rupiah masih konvensional

    kalselbabusalam.com JAKARTA — Komisi XI DPR menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menangani tekanan nilai tukar rupiah masih konvensional dan terlalu berhati-hati. 

    Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun atas depresiasi nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.106 per dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (7/4/2026). 

    “Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati. Kebijakan moneter kita kalau menurut saya BI ini yang harus menurut saya membuka perspektif lebih kuat,” kata Mukhamad Misbakhun pada acara Outlook Indonesia 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta. 

    : Waspada 3 Jalur Transmisi Konflik Timur Tengah ke Ekonomi RI versi Bank Indonesia

    Misbakhun mengakui bahwa bank sentral sudah melakukan upaya intervensi yang kuat, baik Non-Delivery Forward (NDF) maupun Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), serta di pasar spot. 

    Namun, Misbakhun menilai cara BI merespons permasalahan yang semakin kompleks ini belum kunjung diperbaharui. Dia mempertanyakan alasan mengapa otoritas moneter tidak menjadi penyedia likuiditas valas. 

    : : Pertumbuhan Ekonomi Kaltim 2025 Melambat jadi 4,53%, Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya

    Seharusnya, lanjut politisi Partai Golkar itu, otoritas sejak awal melakukan kontrak besar untuk pasokan valas sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar pada waktu-waktu seperti ini. “Ini yang perlu dilakukan perubahan-perubahan fundamental ini,” ujarnya. 

    Di sisi lain, masih terkait dengan likuiditas, Misbakhun mengeklaim sudah pernah berbincang dengan Gubernur BI Perry Warjiyo terkait dengan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

    : : Bos Maybank Indonesia (BNII) Bicara Peluang Naik Kelas ke KBMI 4

    Dia mengkritik Gubernur BI yang diklaim ingin menaikkan SRBI guna menarik kembali investor ke dalam negeri. 

    Sebagaimana diketahui, instrumen investasi BI itu digunakan oleh bank sentral untuk melakukan kebijakan kontraksi. Apabila terjadi aliran modal asing keluar dari pasar keuangan RI, maka imbal hasil SRBI berpeluang dinaikkan guna menjadi pemicu (trigger) kembalinya aliran modal ke SBN maupun pasar saham domestik. 

    Menurut pimpinan Komisi Keuangan DPR itu, pasar harusnya dibanjiri likuiditas agar bisa berdampak positif ke roda perekonomian.

    Dia menilai langkah kontraksi BI dengan SRBI justru berkebalikan dengan strategi membanjiri likuiditas seperti yang didorong Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. 

    “Ini yang menurut saya harus dikonsolidasikan. Harus dikonsolidasikan peran BI dalam menjaga stabilisasi nilai tukar. Banyak sekali industri kita ditopang bahan baku asal impor. Begitu nilai tukar Rp17.000, ini masuk ke harga pokok industri kita. Langsung ada kenaikan,” ucapnya.

    STRATEGI BI 

    Melalui keterangan tertulis, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut pihaknya memprioritaskan stabilitas di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi. 

    Untuk itu, BI disebut akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki dan juga kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar. 

    “BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market DNDF maupun NDF di offshore market,” terang Destry, Selasa (7/4/2026). 

    Menurut Anggota Dewan Gubernur BI 2 periode itu, dampak konflik Timur Tengah ini bersifat 2 arah. Dia menilai kenaikan harga komoditas bisa memberikan efek positif ke perekonomian Indonesia yang merupakan negara eksportir. 

    “Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” ujarnya. 

    Adapun BI bisa menggunakan cadangan devisa yang dikelola untuk mengintervensi pasar keuangan. Kenaikan harga komoditas bisa berdampak positif kepada kinerja ekspor sehingga bisa berpengaruh ke posisi cadangan devisa. 

    Berdasarkan data BI sampai dengan Februari 2026, cadangan devisa berada di level US$151,9 miliar atau turun US$2,7 miliar dibandingkan posisi Januari 2026 yakni US$154,6 miliar. 

  • BI Tahan Suku Bunga: Kekhawatiran Ketidakpastian Global Meningkat!

    BI Tahan Suku Bunga: Kekhawatiran Ketidakpastian Global Meningkat!

    KalselBabusalam.com, JAKARTA — Menjaga stabilitas di tengah gejolak global, Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan atau BI Rate pada level 4,75% di bulan November 2025. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap meningkatnya ketidakpastian kondisi perekonomian dunia.

    Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa meskipun kondisi global sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan berkat negosiasi tarif resiprokal AS, gejolak kembali muncul dalam dua bulan terakhir. Perry merinci bahwa ketidakpastian ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial, termasuk government shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, inflasi Amerika yang persisten dan enggan mereda, serta penurunan Fed Fund Rate yang lebih minim dari ekspektasi pasar. Penjelasan ini disampaikan Perry dalam konferensi pers daring terkait hasil Rapat Dewan Gubernur November 2025 pada Rabu (19/11/2025).

    Selain respons terhadap dinamika global, Perry Warjiyo juga menyoroti upaya Bank Indonesia untuk memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah diberlakukan. Meskipun bank sentral telah memangkas suku bunga kebijakan secara agresif sebesar 125 basis poin sepanjang tahun 2025, Perry mengakui bahwa penurunan suku bunga perbankan belum terjadi secepat yang diharapkan. Oleh karena itu, fokus utama BI dalam jangka pendek adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sembari terus mengintensifkan efektivitas transmisi kebijakan yang telah diterapkan.

    Meski demikian, Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak menutup ruang bagi potensi pelonggaran BI Rate di masa mendatang. Prospek inflasi tahun 2025-2026 yang diperkirakan tetap dalam sasaran 2,5%±1% serta pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas nasional menjadi alasan utama optimisme tersebut. Namun, keputusan mengenai besaran dan waktu penurunan BI Rate akan sepenuhnya bergantung pada perkembangan data ekonomi, baik dari sisi global maupun domestik. “Pertimbangan penurunan suku bunga akan selalu bersifat data dependent atau berbasis data,” tegas Perry, menggarisbawahi pendekatan kehati-hatian bank sentral.

    : : Bos BI Sentil Lagi Perbankan, Lambat Turunkan Suku Bunga Kredit

    : : BI Kembali Pertahankan Suku Bunga BI Rate di Level 4,75%!